Tampilkan postingan dengan label Puisi dan Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi dan Renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Februari 2011

DIMANAKAH KITA?!

Menangislah...
Mungkin itulah kata yang tepat, untuk pertama kali saya ucapkan pada diri ini (jiwa dan ruh ini) ... Karena begitu 'menonjok'-nya nasihat dari salah satu sahabat Rosululloh SAW yang mulia ini.

"Duhai Alloh yang Maha Mengampuni, ampuni aku.. Wahai Robb yang Maha Menyayangi, sayangi aku.."

Dado Binagama

---)|(---


Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan.
Keyakinan tinggal pemikiran, yang tidak berbekas pada perbuatan.
Banyak orang baik, tapi tidka berakal..

Ada orang berakal, tapi tidak beriman..

Ada yang berlidah fasih, tapi berhati lalai..

Ada yang khusyuk, tapi sibuk dalam kesendirian..

Ada yang ahli ibadah, tapi mewarisi kesombongan iblis..

Ada yang ahli maksiat, tapi rendah hati bagaikan sufi..

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, dan..

Ada yang banyak menangis karena kufur nikmat..

Ada yang murah senyum, tapi hatinya mengumpat..

Ada yang berhati tulus, tapi wajahnya cemberut..

Ada yang berlisan bijak, tapi tak memberi teladan..

Ada pezina, yang tampil jadi figur..

Ada yang punya ilmu, tapi tidak paham..

Ada yang paham, tapi tidak menjalankan..

Ada yang pintar, tapi membodohi..

Ada yang bodoh, tapi tak tahu diri..

Ada yang beragama, tapi tidak berakhlak..

Ada yang berakhlak, tapi tidak ber-Tuhan..

Lalu, diantara semua itu.. aku ada dimana?!

(ALI BIN ABI THOLIB, rodhiyaLLohu 'anhu)

Rabu, 07 Juli 2010

BUKAN ITU

~ Mencoba tuk mengungkapkan, apa yang hati ini rasakan, memang tak semudah membalikan telapak tangan~ (Dado Binagama)

---)|(---

Jangan pedulikan apa yang orang katakan,
Karena dia tidak mengenalmu, lebih dari aku mengenalmu..

Bagiku, kau adalah pribadi hari ini,
Karena hari ini, kau adalah bukan yang dulu..

Jangan pusingkan penilaian orang,
Karena itu, sama sekali tidak menggangguku..

Bagiku, kau adalah hati hari ini,
Karena itu, yang sungguh ku harapkan darimu..

Jangan khawatirkan itu,
Karena, bukan itu yang ku inginkan..

Bagiku, semua yang lalu biarkanlah,
Karena, itu tak lagi penting bagimu..

Jangan biarkan semua berlalu tanpa makna..
Jangan biarkan semua kembali tanpa tanya..

Kau, adalah cinta hari ini, dan asa masa depan..

© Februari 2010 (Abu Fauzan)

LELAH

(seorang yang beraktivitas, tidak hanya butuh untuk mengistirahatkan dirinya, tapi juga hatinya.. Walau sejenak, RosuluLLoh SholaLLohu 'Alaihi Wa Sallam menganjurkan kita untuk duduk sejenak menata iman kita kembali)

26 Januari 2010


Kalau lelah, lantaran langkah..
Bersimpuh jiwa, menata hati..

Biarlah tergantung, asa dambaan..
Masih mencoba, menggamit mimpi..

Ada hati, berlimpah cinta..
Mengapa tangis, tak juga reda..

Kalau lelah, lantaran langkah..
Bersimpuh diri, tenangkan hati..

Yakin pelangi, hadir kembali..
Terbanglah tinggi, asa terpatri...

Kamis, 25 Maret 2010

SUAMI YANG SERING BERDUSTA

(tulisan ini, saya ambil dari fesbuk-nya teman baik saya, mas Bayu. Semoga bisa menjadi renungan, hiburan, dan motivasi untuk menjadi suami yang terbaik.. minimal untuk istri kita) ~Dado Binagama~

By: Bayu Gawtama

Entah kapan saya punya keberanian untuk mengakui, mungkin suatu saat tanpa harus saya ceritakan, isteri akan tahu sendiri bahwa suaminya ini sering berdusta, dalam banyak hal. Kata orang, sepandai-pandainya menyimpan bangkai, akan tercium juga. Sehebat apapun seseorang menyembunyikan kebohongan, suatu saat akan terbongkar, bagaimana pun cara dan jalannya. Setiap dusta harus ditutupi oleh dusta yang lain, parahnya semakin lama energi ini akan habis terkuras karena fitrah manusia itu adalah kebenaran.

Ada nasihat yang bagus dari seorang sahabat sebelum saya menikah. Mudah sekali membuat wanita bahagia, kuncinya ada di telinga. Telinga dia dan telinga kita. Maksudnya, wanita itu hanya suka mendengar hal-hal yang indah dan menyenangkan. Maka ketika berbicara dengannya cukup bicarakan yang baik-baik, yang indah-indah dan hindari sesuatu yang bisa menyakitinya, meskipun itu sebuah kejujuran. Sebaliknya, ketika ia berbicara maka sediakan telinga kita seluas samudera untuk menampung segala cerita, kisah, curahan hati hingga keluh kesahnya.

Akhirnya waktu itu pun tiba, saya tak bisa lagi menahan untuk tidak bicara. Meskipun saya tahu, tanpa saya berterus terang pun isteri sudah bisa merasakannya. Mata batinnya selalu menyala, jiwanya selalu terasah untuk mampu menangkap sinyal-sinyal yang tak sesuai dengan kenyataan. Ia seperti tahu banyak hal yang sering saya sembunyikan, karenanya buat apa juga saya terus menahan hati untuk tidak berbicara empat mata dengannya.

Saya berterus terang, bahwa saya pernah mendustainya soal makan. Setiap pulang kerja, isteri hampir tak pernah absen untuk menyiapkan makan malam. Setiap kali isteri bertanya, “Makan sudah disiapkan, mau makan dulu apa mandi dulu?”. Nah disaat seperti inilah saya kerap berdusta, saya selalu bilang belum makan dan selalu menunggu untuk makan di rumah karena masakan isteri yang paling nikmat. Padahal, sering sebelum pulang ada rekan yang mengajak saya makan, atau teman-teman di kantor menyediakan makan malam. Saya berdusta untuk tetap menghormati isteri yang sudah sepenuh hati menyiapkan masakan, akan bagaimana perasaanya jika saya tak menyentuh makanannya?

Masih tentang makanan, saya juga pernah berdusta berkenaan soal rasa. Kadang, mungkin karena ia terlalu letih mengurus rumah dan anak-anak seharian, ada yang kurang dalam rasa masakannya. Kadang kurang garam, atau terlalu manis. Saya harus menyembunyikan ekspresi saya ketika makanannya kurang atau kebanyakan garam misalnya. Kalau soal yang satu ini, biasanya isteri langsung tahu karena ia pun ikut makan. Paling-paling ia bilang, “iiih kok nggak bilang kalau belum digaramin…” saya hanya tersenyum.

Saya pernah berdusta kalau sepulang kerja isteri bertanya, “Abi capek nggak? Ada yang mau Ummi bicarakan…”. Selelah apapun saya saat itu, selalu saya bilang, “masih seger begini kok, ayo kita bicara…”. Belum satu jam berbicara, beberapa kali mata ini terpejam menahan kantuk. “iih diajak bicara kok malah tidur…”. Segera saya membelalakkan mata dan bilang, “Nggak, tadi merem itu lagi menghayati kok…”, sering pula isteri masih berbicara saya benar-benar tertidur lelap. Esok paginya, saya benar-benar minta maaf kepadanya.

Kadang isteri bertanya, “Abi ada waktu? Sedang tidak sibuk kan?” Pertanyaan itu kerap ia lontarkan ketika saya sedang di rumah. Saya belum bilang kalau hari itu ada kegiatan atau ada acara lain di luar rumah. Tapi karena isteri yang meminta, maka saya katakan waktu saya sangat longgar hari itu. Maka kami pun berjibaku menyelesaikan pekerjaan rumah, namun diam-diam saya sambil kirim pesan singkat ke beberapa orang yang sudah terlanjur janji bahwa saya datang telat.

Soal uang pun demikian. Saya sering berusaha untuk tidak berkata, “tidak punya uang” saat isteri bertanya, “masih punya uang nggak? Uang belanja sudah habis…” atau “anak-anak perlu beli buku baru, Abi masih ada simpanan?”. Tidak tega rasanya kalau harus “jujur” mengatakan saya tidak punya uang saat itu. Saya hanya ingin membuat isteri tenang menjalani aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga tanpa harus memikirkan hal yang menjadi kewajiban saya. Jawaban untuk pertanyaan diatas, biasanya yang keluar dari mulut ini, “Ooh, perlunya kapan? Insya Allah akan selalu ada pada saat diperlukan.”

Satu lagi dusta yang sangat umum dilakukan banyak suami, meskipun sang isteri benar-benar tahu kalau suaminya berdusta dalam hal ini, tetapi ia tetap senang dengan “dusta” suaminya ini. Yakni ketika suaminya berkata, “Dik, kamu adalah wanita tercantik di dunia ini…” Ini bisa dibilang jujur, bisa juga dibilang dusta, tergantung bagaimana memandang dan memersepsikannya. Sejujurnya memang mungkin isteri kita bukanlah yang benar-benar tercantik di dunia, karena boleh jadi secara fisik mungkin ada yang lebih cantik darinya. Tetapi, jika ini diungkapkan berdasarkan perasaan cinta yang sebenarnya, maka wajar jika di hati sang suami hanya kecantikan isterinyalah nomor satu di dunia, bukan yang lain. Cantik wajahnya, terlebih hatinya. Ajaibnya, meskipun terdengar “merayu” tetap saja semua isteri paling suka “dusta” yang satu ini.

Jumat, 21 November 2008

Bukan Karena Manusia!

Saudaraku,
Dalam perjalanan dakwah ini, ada yang mengeluh, merasa jenuh, ingin gugur, dan jatuh.
Ia berkata, "Aku lelah."
Namun, ada juga orang-orang yang tubuhnya lelah,
pikirannya penat, problem hidupnya banyak,
ekonominya pas-pas-an, tapi semangatnya kuat!
Ia berkata, "LILLAH." Karena ALLAH. Maka, Ikhlaslah saudaraku...
Sebab bila tidak, kau akan tersakiti.

Note:
Untuk semua saudaraku yang merasa dirinya "dikhianati" oleh dakwah,
yakinlah, kembalikanlah semua AMAL dan DAKWAH kita kepada Sang Pemilik Dakwah ini.
Jangan berhenti berjuang, jangan berhenti menasehati, dan jangan pernah berhenti untuk melangkah bersama.
Sebab kita beramal bukan untuk manusia, bukan untuk golongan, bukan untuk partai.
Semua ini hanyalah sarana, untuk mencapai ridho-Nya.

Senin, 16 Juni 2008

Puisi: Bangkit (versi Islami)

edited by: Saya sendiri :-)

BANGKIT itu: SUSAH.
Susah untuk hidup senang, disaat masih banyak saudara kita yang susah!

BANGKIT itu: TAKUT.
Takut berbuat maksiat, takut untuk tidak amanah!

BANGKIT itu: MENCURI.
Mencuri perhatian dunia barat, dengan peradaban masyarakat madani!

BANGKIT itu: MARAH.
Marah bila Islam diinjak-injak, marah bila saudara seiman di-zholimi!

BANGKIT itu: MALU.
Malu tidak bersyukur, malu karena kufur atas nikmat-Nya!

BANGKIT itu: TIDAK ADA.
Tidak ada hari tanpa dakwah, tidak ada hari tanpa kebaikan!

BANGKIT itu: BIL JAMA'AH.
Untuk kejayaan Islam!

Rabu, 07 Mei 2008

Dialog Puisi (1)

Seorang sahabat, telah mengirim sebuah puisi ruhiyah kepadaku,
Seorang sahabat yang bermuhasabah, karena refleksi keimanannya yang tinggi.

INILAH YANG DITULISNYA:

Langit telah bekerja turunkan kebaikan untukku,
Tak ada kurang dan hina sedikitpun, sempurna.

Tapi jiwa...dosalah yang kuhantar ke langit sana,
Lelah menangisi diri,
Lelah berpeluh simbah.

Kutahu 4JJI..
Kuyakin 4JJI..

Engkau..RahmatMu terhampar untukku,
untuk pendosa,
Yang menghiba ampunanMu,
Dan takut kembali salah
Walau salah tetap berlaku...

Aku mencoba untuk menanggapi posting diatas dengan puisi dibawah ini:

Jika,
Langit telah mengingatmu sebagai pendosa..
Siapakah yang bersih dari dosa, di bumi sana?!

Jika,
Bumi sudah menghinakan dirimmu, dahulu kala..
Apakah ada hidayah, tanpa jahiliyah terlebih dahulu?!

Untukmu,
Manusia-manusia yang bukan Nabi dan Rosul..
Untukmu,
Manusia-manusia yang bukan sholihin dan shiddiqin..
Untukmu,
Manusia-manusia biasa yang menghiba ridho-Nya..

YAKINLAH,
Dia senantiasa tersenyum untukmu..
Menantikan datangnya hamba dhoif yang terus belajar..
bagaimana manjadi awwabin..
dan mutathohhirin..


Yours truly
Abu Fauzan
7 Mei 2008

Kamis, 03 April 2008

Nice Poem : Sebuah Renungan

Assalaamu'alaikum...
Saudaraku, puisi dibawah ini sangat layak untuk jadi bahan renungan kita.
Semoga, kita dimudahkan 4JJI untuk menumbuhkembangkan sikap konsisten,
dalam berdakwah, beramal sholih, dan memberikan contoh... (Abu Fauzan)

Ditulis oleh: Tomy Saleh,
Tebet, 16 Mei 2006. pk.11.13 WIB

Kami diajarkan kejujuran,
Tapi ketika kami jujur, kami dibilang bodoh.

Kami diajarkan kritis,
Tapi ketika kami kritis, kami dibilang membangkang.

Kami diajarkan istiqomah,
Tapi ketika kami istiqomah, kami dibilang kuno

Kami diajarkan tegas pada musuh,
Tapi ketika kami tegas pada musuh, kami dibilang terlalu ekstrim

Kami diajarkan hidup sederhana,
Tapi ketika kami hidup sederhana, kami dibilang tidak bisa menerima kemajuan.

Kami diajarkan menolak harta syubhat,
Tapi ketika kami tolak harta syubhat, kami dibilang payah.

Kami diajarkan menghindari hidup bermewah-mewahan,
Tapi ketika kami menghindari hidup bermewah-mewahan, kami dibilang kampungan.

Kami diajarkan untuk mengatakan kebenaran dan melawan kebathilan,
Tapi ketika kami berdiri untuk melakukannya, kami kaget, karena kami berhadapan langsung denganmu!