Tampilkan postingan dengan label taushiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taushiyah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Maret 2010

SUAMI YANG SERING BERDUSTA

(tulisan ini, saya ambil dari fesbuk-nya teman baik saya, mas Bayu. Semoga bisa menjadi renungan, hiburan, dan motivasi untuk menjadi suami yang terbaik.. minimal untuk istri kita) ~Dado Binagama~

By: Bayu Gawtama

Entah kapan saya punya keberanian untuk mengakui, mungkin suatu saat tanpa harus saya ceritakan, isteri akan tahu sendiri bahwa suaminya ini sering berdusta, dalam banyak hal. Kata orang, sepandai-pandainya menyimpan bangkai, akan tercium juga. Sehebat apapun seseorang menyembunyikan kebohongan, suatu saat akan terbongkar, bagaimana pun cara dan jalannya. Setiap dusta harus ditutupi oleh dusta yang lain, parahnya semakin lama energi ini akan habis terkuras karena fitrah manusia itu adalah kebenaran.

Ada nasihat yang bagus dari seorang sahabat sebelum saya menikah. Mudah sekali membuat wanita bahagia, kuncinya ada di telinga. Telinga dia dan telinga kita. Maksudnya, wanita itu hanya suka mendengar hal-hal yang indah dan menyenangkan. Maka ketika berbicara dengannya cukup bicarakan yang baik-baik, yang indah-indah dan hindari sesuatu yang bisa menyakitinya, meskipun itu sebuah kejujuran. Sebaliknya, ketika ia berbicara maka sediakan telinga kita seluas samudera untuk menampung segala cerita, kisah, curahan hati hingga keluh kesahnya.

Akhirnya waktu itu pun tiba, saya tak bisa lagi menahan untuk tidak bicara. Meskipun saya tahu, tanpa saya berterus terang pun isteri sudah bisa merasakannya. Mata batinnya selalu menyala, jiwanya selalu terasah untuk mampu menangkap sinyal-sinyal yang tak sesuai dengan kenyataan. Ia seperti tahu banyak hal yang sering saya sembunyikan, karenanya buat apa juga saya terus menahan hati untuk tidak berbicara empat mata dengannya.

Saya berterus terang, bahwa saya pernah mendustainya soal makan. Setiap pulang kerja, isteri hampir tak pernah absen untuk menyiapkan makan malam. Setiap kali isteri bertanya, “Makan sudah disiapkan, mau makan dulu apa mandi dulu?”. Nah disaat seperti inilah saya kerap berdusta, saya selalu bilang belum makan dan selalu menunggu untuk makan di rumah karena masakan isteri yang paling nikmat. Padahal, sering sebelum pulang ada rekan yang mengajak saya makan, atau teman-teman di kantor menyediakan makan malam. Saya berdusta untuk tetap menghormati isteri yang sudah sepenuh hati menyiapkan masakan, akan bagaimana perasaanya jika saya tak menyentuh makanannya?

Masih tentang makanan, saya juga pernah berdusta berkenaan soal rasa. Kadang, mungkin karena ia terlalu letih mengurus rumah dan anak-anak seharian, ada yang kurang dalam rasa masakannya. Kadang kurang garam, atau terlalu manis. Saya harus menyembunyikan ekspresi saya ketika makanannya kurang atau kebanyakan garam misalnya. Kalau soal yang satu ini, biasanya isteri langsung tahu karena ia pun ikut makan. Paling-paling ia bilang, “iiih kok nggak bilang kalau belum digaramin…” saya hanya tersenyum.

Saya pernah berdusta kalau sepulang kerja isteri bertanya, “Abi capek nggak? Ada yang mau Ummi bicarakan…”. Selelah apapun saya saat itu, selalu saya bilang, “masih seger begini kok, ayo kita bicara…”. Belum satu jam berbicara, beberapa kali mata ini terpejam menahan kantuk. “iih diajak bicara kok malah tidur…”. Segera saya membelalakkan mata dan bilang, “Nggak, tadi merem itu lagi menghayati kok…”, sering pula isteri masih berbicara saya benar-benar tertidur lelap. Esok paginya, saya benar-benar minta maaf kepadanya.

Kadang isteri bertanya, “Abi ada waktu? Sedang tidak sibuk kan?” Pertanyaan itu kerap ia lontarkan ketika saya sedang di rumah. Saya belum bilang kalau hari itu ada kegiatan atau ada acara lain di luar rumah. Tapi karena isteri yang meminta, maka saya katakan waktu saya sangat longgar hari itu. Maka kami pun berjibaku menyelesaikan pekerjaan rumah, namun diam-diam saya sambil kirim pesan singkat ke beberapa orang yang sudah terlanjur janji bahwa saya datang telat.

Soal uang pun demikian. Saya sering berusaha untuk tidak berkata, “tidak punya uang” saat isteri bertanya, “masih punya uang nggak? Uang belanja sudah habis…” atau “anak-anak perlu beli buku baru, Abi masih ada simpanan?”. Tidak tega rasanya kalau harus “jujur” mengatakan saya tidak punya uang saat itu. Saya hanya ingin membuat isteri tenang menjalani aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga tanpa harus memikirkan hal yang menjadi kewajiban saya. Jawaban untuk pertanyaan diatas, biasanya yang keluar dari mulut ini, “Ooh, perlunya kapan? Insya Allah akan selalu ada pada saat diperlukan.”

Satu lagi dusta yang sangat umum dilakukan banyak suami, meskipun sang isteri benar-benar tahu kalau suaminya berdusta dalam hal ini, tetapi ia tetap senang dengan “dusta” suaminya ini. Yakni ketika suaminya berkata, “Dik, kamu adalah wanita tercantik di dunia ini…” Ini bisa dibilang jujur, bisa juga dibilang dusta, tergantung bagaimana memandang dan memersepsikannya. Sejujurnya memang mungkin isteri kita bukanlah yang benar-benar tercantik di dunia, karena boleh jadi secara fisik mungkin ada yang lebih cantik darinya. Tetapi, jika ini diungkapkan berdasarkan perasaan cinta yang sebenarnya, maka wajar jika di hati sang suami hanya kecantikan isterinyalah nomor satu di dunia, bukan yang lain. Cantik wajahnya, terlebih hatinya. Ajaibnya, meskipun terdengar “merayu” tetap saja semua isteri paling suka “dusta” yang satu ini.

Minggu, 07 Desember 2008

ARAFAH

Arafah. Padang luas tempat kita menghampar jiwa. Semua lebur jadi satu tanpa sekat. Semua sekat: etnis, warna kulit, postur, latar budaya dan sejarah. Ihram putih yang membalut tubuh-tubuh kita menyimbolkan kesatuan. Semua kesatuan: asal usul, tujuan hidup, jalan hidup yang kita tempuh untuk mencapai tujuan itu.

Arafah itu seperti lukisan jiwa-jiwa yang digantung di dinding sejarah. Seluruh jiwa menyatu dalam lukisan yang rumit; disatukan oleh kekuatan yang lahir kekuatan; kekuatan cinta yang lahir kekuatan iman. Tiba-tiba kita semua merasakan kerendahan hati yang tulus. Lalu jiwa kita hampar bagai permadani; silakan semua orang duduk di sana. Perbedaan-perbedaan ini, etnis, warna kulit, postur, latar budaya dan sejarah seketika berubah menjadi sumber keindahan yang menghiasi langit kehidupan kita.

Cintalah rahasianya. Maka ekspansi Islam dari jazirah Arab ke kawasan Asia Tengah, Selatan, Tenggara dan Cina, atau kawasan Afrika Selatan dan Utara sampai ke Eropa Barat dan Timur, bukanlah suatu catatan tentang pedang terhunus yang tak pernah berhenti berdarah. Itu justru serangan pasukan cinta yang datang membebaskan jiwa-jiwa manusia dari belenggu yang membatasi hidupnya dengan sekat tanah dan etnis: maka menyatulah mereka dalam cinta yang melapangkan dunia. "Akan kami perangi mereka dengan cinta," kata Hasan Al Banna.

Dalam celupan cinta jiwa-jiwa itu muncul kembali dengan kesamaan-kesamaan baru: keramahan yang tulus, kerendahan hati yang natural, kedermawanan dan kebiasaan menolong orang lain. Pergilah ke negara-negara Islam dan temuilah masyarakatnya, kamu pasti menemukan sifat-sifat itu merata di antara mereka. Itulah sifat-sifat yang lahir dari cinta.

Dan itulah yang terjadi kemudian. Bangsa-Bangsa Islam adalah rumpun ideologi yang tidak pernah bisa punah, bahkan ketika khilafah mereka runtuh dan negara-negara mereka porak-poranda. Bandingkanlah dengan imperium Romawi, atau Persia atau Uni Soviet. Bangsa-bangsa mereka pecah begitu institusi negara mereka runtuh. Nasib seperti ini rasanya juga akan dialami oleh negara-negara kosmo saat ini. Materialisme telah membangun sebuah dunia kosmo yang disatukan dan dipisahkan oleh uang.Di dunia kita saat ini, krisis ekonomi bisa dengan mudah menghancurkan sebuah bangsa, menutup riwayat sebuah negara. Seperti Uni Soviet. Walaupun tidak dapat meramalkan waktu kejadiaannya, tapi saya memiliki kepercayaan yang kuat, bahwa Amerika Serikat juga akan mengalami masa depan yang sama.

Batasan negeri kita, dan negeri mana pun, adalah ruang hati kita. Seluas apa ruang hati kita dapat menampung orang lain, seluas itulah negeri yang mungkin kita huni. Selama apa cinta dapat bertahan dalam hati kita, selama itulah umur negeri kita. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang rumit sebenarnya tersimpan sebuah rahasia yang sederhana: keutuhan kita sebagai bangsa seumur dengan umur cinta kita.


Anis Matta
pernah dimuat Majalah Tarbawi

Senin, 06 Oktober 2008

Tinggal Hanya Status

Saudaraku, tulisan ini bagus untuk mengingatkan kita.
Ya, mengingatkan agar kita tidak terlena oleh tipu daya dunia.
Karena, siapapun kita, tetap tidak akan pernah lepas dari godaan dunia.
Yang bahaya adalah, jika yang terlena itu adalah para ustadz!
karena, bisa jadi mereka akan mencari-cari pembenaran atas apa yang mereka lakukan.
Bukan lagi kebenaran. TAPI pembenaran. Na'udzubillah min dzaalik.


Ditulis oleh: Ust. H. Mashadi

Wajahnya bersih. Klimis. Bibirnya kemerah-merahan. Pakaiannya selalu trendy dan nampak 'charming'. Biasanya menggunakan merk terkenal atau barang branded. Seleranya tinggi. Gaya hidupnya nyaris sempurna. Flamboyan.

Pergaulannya kalangan papan atas. Gaya bicaranya hanya bisa dipahami kalangan tertentu. Tak suka bergaul dengan orang 'udik'. Konon, tetangganya meninggalpun, tak berkenan takziyah, karena yang meninggal orang tak 'berkelas'.

Bicaranya memukau siapa saja. Retorika dan pilihan katanya menarik. Menyihir orang-orang yang ada didekatnya. Mereka sangat ta'jub. Kecerdasannya diakui banyak kalayak. Ingatannya luar biasanya. Apa saja bisa dibicarakan. Dari yang ringan sampai yang rumit. Dari soal agama sampai soal politik global. Semua faham. Posisinya amat menentukan. Banyak orang bergantung kepadanya. Semua yang diucapkan dan dilakukannya menjadi perhatian. Menjadi perhatian siapa saja. Anjuran dan arahannya diikuti. Ia menjadi sebuah 'icon' di lingkungannya, dan memiliki magnitute yang luar biasa.

Mungkin ia membaca teori-teori kepribadian dari berbagai ahli. Ahli kepribadian Barat. Kehidupannya menyesuaikan dengan ritme baru. Tak menggambarkan lagi sebagai orang lama. Orang yang konservatif. Orang yang tak berubah. Orang yang dalam terminologi lama disebut: 'puritan'.
Bersahaja. Kehidupan lama sudah tidak sesuai lagi. Ia tinggalkan semua yang berbau lama. Kaidah-kaidah lama tak lagi menguntungkan. Tak lagi dapat memberi kenyamanan. Kenyamanan kehidupan pribadinya. Karena semua berubah. Ia harus ikut berubah. Menyesuaikan. Kaidah-kaidah kehidupannya ikut berubah. Lingkungan pergaulannya menjadi luas. Tak terbatas. Tidak lagi sebatas orang-orang yang se-jenis. Dalam berbagai hal. Termasuk ideologi. Lebih luas. Lebih kosmopolitan. Lebih menjangkau seluruh kelompok-kelompok dan golongan. Tak ada sekat lagi.

Tak lagi suka menggunakan idiom-idiom agama. Karena akan menyusahkan hidupnya. Agama hanya akan menjadi penghalang cita-citanya. Agama hanya akan menjadi tembok 'barrier' bagi karirnya. Menggunakan idiom agama adalah malapetaka. Menggunakan agama dapat dituduh fundamentalis dan teroris. Agama harus dibuang jauh-jauh. Agama akan mengacaukan dukungan terhadap dirinya atau lingkungannya. Agama harus menjadi masa lalu.Tak lagi suka ceramah di masjid-masjid. Karena tak dapat memberikan 'benefit' apa-apa. Kecil. Lebih suka bertemu dengan kalangan-kalangan atas. Politisi, birokrat, atau pengusaha. Di kafe-kafe. Di lobi-lobi hotel berbintang. Nilai lebih
tinggi. Sekali 'deal' sudah dapat digunakan, memuaskan hasratnya yang obsesif dengan kekuasaan. Kekuasaan sudah menjadi 'ghoyah' tujuan. Kekuasaan adalah di atas segala-galanya. Tak lagi peduli. Tak peduli dengan kritik. Semua harus diarahkan dan diajak menjangkau kekuasaan. Betapapun mahal.

Pikiran, tenaga, dan seluruh potensi harus diarahkan menjangkau kekuasaan. Mimpi-mimpi yang dibangun adalah mimpi kekuasaan. Jangan mimpi yang lain. Ingatan kolektifnya adalah kekuasaan. Tak boleh yang lain. Seluruh lingkungan kolektifnya harus mengikutinya. Tak boleh ada yang melakukan interupsi. Kekuasaan harus segera direngkuh. Berkuasa menjadi keniscayaan. Ia yakin bisa terwujud. Yakin akan menjadi fakta kenyataan. Betapa heroiknya. Heroik yang disertai dengan daya khayal yang ambisius.Idiom-idiom baru terus disampaikan. Sebagian orang tak paham. Sebagian orang menolak. Sebagian orang menentang. Semua yang tak sepaham, akhirnya luruh dan pergi.
Memang. Agar tujuan dapat diwujudkan, tak perlu ada perbedaan. Apalagi, ada orang yang menolak dan menentang. Harus homogin. Semuanya harus satu kata dan satu tujuan. Kekuasaan. Dibenaknya kekuasaan pasti akan memberikan segalanya. Harapan yang diimpikan, pasti akan terwujud. Tak ada lagi yang tak dapat diwujudkan. Kemuliaan. Penghormatan. Harta. Semua fasilitas akan terpenuhi. Kemewahan akan dinikmati.Lalu, orang-orang melihatnya menjadi tertegun. Seakan melihat sebuah keajaiban. Seakan tak percaya. Seakan melihat bayangan dalam mimpi. Inilah generasi baru yang membuat banyak orang menjadi terpana.

Kini. Keterbukaan dan koalisi adalah 'aqidah' baru. Tak lagi berani menunjukkan identitasnya sebagai muslim. Assalamu'alaikum diganti dengan pekik 'merdeka!'. Kondisi menuntutnya seperti itu. Tak ada sekat lagi antara agama dan nasionalisme. Kaum agama dan kaum nasionalis bisa bersama-sama. Tak ada sekat lagi antara Islam dan Kristen. Tak ada sekat lagi partai yang berbasis agama dengan partai sekuler. Semua sama. Semua dalam satu cita-cita nasional. Pengorbanan harus dilakukan.Tak perlu terlalu menampakkan identitas atau jati diri. Berteman dengan siapapun tidak masalah. Berteman dengan golongan apapun tidak masalah. Karena rakyat ini tidak homogin. Tidak mengklaim kelompok yang paling benar dan ideal. Dan, tak aneh kalau kadang-kadang mengikuti selera rakyat. Rakyat suka yang 'dilarang' agama, harus diikuti selera mereka. Rakyat suka berjoget. Rakyat harus dipuaskan. Asal semua mendukung dan memilihnya. Kekuasaan harus direngkuh dengan cara apapun. Tak peduli. Melanggar atau tidak. Bukan lagi perdebatan pokok. Agama tak lagi menjadi penentu 'mizan' dalam beramal.

Kini. Semua yang melihatnya tertegun. Bagaikan tak percaya. Harapan yang dibawa pupus. Berharap akan ada alternatif. Berharap solusi masa depan mereka. Berharap akan lebih baik. Belum lagi genap sepuluh tahun harapan itu memudar. Hampa. Tak ada kebanggaan yang padu. Tak ada kepercayaan yang tersisa. Setiap orang semua menunduk malu. Seakan melihat semua tontonan yang tak pantas ditonton. Pertunjukkan di panggung yang 'absurd'. Satu-satu penonton meninggalkan panggung. Tak tertarik lagi dengan ajakan sang 'aktor'. Karena para pengunjung malu dan merasa jijik.

Memang. Masih berstatus sebagai muslim. Masih melaksanakan shalat. Masih berpuasa. Mungkin juga sering ke Timur Tengah, dan pergi umroh. Tapi, tak lagi berani menyatakan diri sebagai muslim. Tak percaya lagi. Tak yakin lagi. Tak merasa perlu berjuang bersama Islam. Islam sudah masa lalu.
Realitas hari ini tak mendukung bagi kepentingan dan kebutuhan yang diinginkan. Komunitas ini harus menjadi besar dan kuat. Kalau mau menjadi besar dan kuat, tak harus mengandalkan kepada Islam. Inilah logika orang-orang yang sudah terobsesi dengan kekuasaan. Agama Islam is 'nothing'.

Tapi, dalam sejarah ada orang-orang yang memberikan kebanggan, yang tak ada habis-habisnya. Namanya, terus menjadi diingat, tak putus-putus oleh waktu. Hasan al-Banna mati ditembak. Sayyid Qutub mati ditiang gantungan. Ali Audah mati ditiang gantungan. Syeikh Ahmad Yasin mati oleh rudal Israel. Mereka semuanya tetap berpegang dengan keyakinan dan keimanannya.

Mereka tak pernah berubah oleh waktu dan keadaan. Padahal, mereka semua mempunyai kesempatan mereguk kenikmatan dunia. Kesempatan mendapatkan segala yang menjadi ambisi manusia. Tapi, semua yang nisbi itu, dilupakannya.

Coba renungkan yang disampaikan oleh Allah Azza Wa Jalla di bawah ini: "Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al-Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya
syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk"
. (al-Qur'an: 43: 36-37). Wallahu 'alam.