Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Februari 2011

DIMANAKAH KITA?!

Menangislah...
Mungkin itulah kata yang tepat, untuk pertama kali saya ucapkan pada diri ini (jiwa dan ruh ini) ... Karena begitu 'menonjok'-nya nasihat dari salah satu sahabat Rosululloh SAW yang mulia ini.

"Duhai Alloh yang Maha Mengampuni, ampuni aku.. Wahai Robb yang Maha Menyayangi, sayangi aku.."

Dado Binagama

---)|(---


Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan.
Keyakinan tinggal pemikiran, yang tidak berbekas pada perbuatan.
Banyak orang baik, tapi tidka berakal..

Ada orang berakal, tapi tidak beriman..

Ada yang berlidah fasih, tapi berhati lalai..

Ada yang khusyuk, tapi sibuk dalam kesendirian..

Ada yang ahli ibadah, tapi mewarisi kesombongan iblis..

Ada yang ahli maksiat, tapi rendah hati bagaikan sufi..

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, dan..

Ada yang banyak menangis karena kufur nikmat..

Ada yang murah senyum, tapi hatinya mengumpat..

Ada yang berhati tulus, tapi wajahnya cemberut..

Ada yang berlisan bijak, tapi tak memberi teladan..

Ada pezina, yang tampil jadi figur..

Ada yang punya ilmu, tapi tidak paham..

Ada yang paham, tapi tidak menjalankan..

Ada yang pintar, tapi membodohi..

Ada yang bodoh, tapi tak tahu diri..

Ada yang beragama, tapi tidak berakhlak..

Ada yang berakhlak, tapi tidak ber-Tuhan..

Lalu, diantara semua itu.. aku ada dimana?!

(ALI BIN ABI THOLIB, rodhiyaLLohu 'anhu)

Rabu, 07 Juli 2010

LELAH

(seorang yang beraktivitas, tidak hanya butuh untuk mengistirahatkan dirinya, tapi juga hatinya.. Walau sejenak, RosuluLLoh SholaLLohu 'Alaihi Wa Sallam menganjurkan kita untuk duduk sejenak menata iman kita kembali)

26 Januari 2010


Kalau lelah, lantaran langkah..
Bersimpuh jiwa, menata hati..

Biarlah tergantung, asa dambaan..
Masih mencoba, menggamit mimpi..

Ada hati, berlimpah cinta..
Mengapa tangis, tak juga reda..

Kalau lelah, lantaran langkah..
Bersimpuh diri, tenangkan hati..

Yakin pelangi, hadir kembali..
Terbanglah tinggi, asa terpatri...

Kamis, 25 Maret 2010

SUAMI BERHATI MALAIKAT

(tulisan ini diambil dari fesbuk-nya Aidil Heryana, yang saya dapati link-nya dari YM. Luar biasa, bila benar tulisan ini adalah kisah nyata, maka ini sangat mengharukan dan mengajari kita akan makna cinta, dilihat dari salah satu sisi terbersihnya) ~Dado Binagama~


Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.
Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!

Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.
Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya– karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing– Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu ‘agar semua anaknya dapat berhasil’.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:
“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.” Sambil air mata si sulung berlinang.
“Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.
”Anak-anakku…Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya.

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa….disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.
Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…” Sambil menangis.
” Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya…”. BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH”.

Minggu, 07 Desember 2008

ARAFAH

Arafah. Padang luas tempat kita menghampar jiwa. Semua lebur jadi satu tanpa sekat. Semua sekat: etnis, warna kulit, postur, latar budaya dan sejarah. Ihram putih yang membalut tubuh-tubuh kita menyimbolkan kesatuan. Semua kesatuan: asal usul, tujuan hidup, jalan hidup yang kita tempuh untuk mencapai tujuan itu.

Arafah itu seperti lukisan jiwa-jiwa yang digantung di dinding sejarah. Seluruh jiwa menyatu dalam lukisan yang rumit; disatukan oleh kekuatan yang lahir kekuatan; kekuatan cinta yang lahir kekuatan iman. Tiba-tiba kita semua merasakan kerendahan hati yang tulus. Lalu jiwa kita hampar bagai permadani; silakan semua orang duduk di sana. Perbedaan-perbedaan ini, etnis, warna kulit, postur, latar budaya dan sejarah seketika berubah menjadi sumber keindahan yang menghiasi langit kehidupan kita.

Cintalah rahasianya. Maka ekspansi Islam dari jazirah Arab ke kawasan Asia Tengah, Selatan, Tenggara dan Cina, atau kawasan Afrika Selatan dan Utara sampai ke Eropa Barat dan Timur, bukanlah suatu catatan tentang pedang terhunus yang tak pernah berhenti berdarah. Itu justru serangan pasukan cinta yang datang membebaskan jiwa-jiwa manusia dari belenggu yang membatasi hidupnya dengan sekat tanah dan etnis: maka menyatulah mereka dalam cinta yang melapangkan dunia. "Akan kami perangi mereka dengan cinta," kata Hasan Al Banna.

Dalam celupan cinta jiwa-jiwa itu muncul kembali dengan kesamaan-kesamaan baru: keramahan yang tulus, kerendahan hati yang natural, kedermawanan dan kebiasaan menolong orang lain. Pergilah ke negara-negara Islam dan temuilah masyarakatnya, kamu pasti menemukan sifat-sifat itu merata di antara mereka. Itulah sifat-sifat yang lahir dari cinta.

Dan itulah yang terjadi kemudian. Bangsa-Bangsa Islam adalah rumpun ideologi yang tidak pernah bisa punah, bahkan ketika khilafah mereka runtuh dan negara-negara mereka porak-poranda. Bandingkanlah dengan imperium Romawi, atau Persia atau Uni Soviet. Bangsa-bangsa mereka pecah begitu institusi negara mereka runtuh. Nasib seperti ini rasanya juga akan dialami oleh negara-negara kosmo saat ini. Materialisme telah membangun sebuah dunia kosmo yang disatukan dan dipisahkan oleh uang.Di dunia kita saat ini, krisis ekonomi bisa dengan mudah menghancurkan sebuah bangsa, menutup riwayat sebuah negara. Seperti Uni Soviet. Walaupun tidak dapat meramalkan waktu kejadiaannya, tapi saya memiliki kepercayaan yang kuat, bahwa Amerika Serikat juga akan mengalami masa depan yang sama.

Batasan negeri kita, dan negeri mana pun, adalah ruang hati kita. Seluas apa ruang hati kita dapat menampung orang lain, seluas itulah negeri yang mungkin kita huni. Selama apa cinta dapat bertahan dalam hati kita, selama itulah umur negeri kita. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang rumit sebenarnya tersimpan sebuah rahasia yang sederhana: keutuhan kita sebagai bangsa seumur dengan umur cinta kita.


Anis Matta
pernah dimuat Majalah Tarbawi

Rabu, 26 November 2008

Berharap Syurga-Mu

Memang saya tak setampan Nabi Yusuf alaihi salam, yang pesonanya
membuat Zulaikha tergila-gila kepadanya dan belasan wanita cantik
lainnya rela mengiris tangannya tanpa sadar lantaran tersihir keelokan
wajah putra Ya'kub itu. Ketampanan Yusuf bukan semata fisik, melainkan
cahaya di hatinya yang memancarkan kemuliaan. Bandingkan dengan diri
ini, tak seujung kelingking pun ketampanan saya bisa menyaingi Nabi
mulia itu.


Saya pun tak sesabar Nabi Ibrahim alaihi salam, berdakwah hingga
usianya lebih seabad namun hanya sedikit pengikutnya. Yang bersabar
hingga hari tuanya untuk bisa menimang putra tercinta Ismail. Coba
lihat diri ini, sering tergesa-gesa tak sabaran

Sosok ini pun tak setaat Ismail putra Ibrahim, yang ikhlas menjalankan
perintah Allah meskipun harus disembelih oleh ayahnya sendiri. Bahkan
Ismail tak bergeming saat setan menggodanya. Hmm, mudah sekali rasanya
setan-setan menggoda diri ini. Mungkin karena saya belum benar-benar
taat kepada-Nya.

Diri ini jelas-jelas tak setabah Nabi Ayub alaihi salam dalam
menjalani cobaan dari Allah. Ayub yang bertahun-tahun diuji Allah
dengan penyakit, tak sedikit pun mengeluh. Justru sebaliknya, ia
merasa ujian itu adalah cara Allah mendekatinya. Sedangkan saya, baru
kena flu saja sudah uring-uringan, bagaimana diberi penyakit yang
lebih parah? Bisa-bisa jadi alasan untuk malas beribadah.

Saya juga tak sehebat Nabi Daud alaihi salam, yang meski bertubuh
kecil sangat pemberani melawan Raja Jalut. Begitupun Nabi Musa alaihi
salam yang tak gentar berhadapan dengan penguasa paling lalim
sepanjang masa, Firaun. Ia berani mengungkapkan kebenaran dengan nyawa
taruhannya. Duh, jika saya berada pada posisi seperti itu, sanggupkah?
Bahkan menegur sahabat yang berbuat salah pun terasa berat lidah ini
mencobanya. Ironisnya, saya sering bersembunyi, pura-pura buta setiap
kali kemungkaran berlaku di depan mata ini.

Hati ini tak setegar Nabi Nuh alaihi salam yang tetap tersenyum
mendapati ejekan dari kaumnya, termasuk isteri dan anaknya sendiri.
Bahkan ketika air bah datang, Nuh tetap mengajak kaum yang sebelumnya
tak henti mengejeknya sebagai orang gila. Andaikan saya yang diejek,
emosi lah yang didahulukan. Kalau perlu saya menantang siapapun
penghina itu untuk berkelahi, saling menumpahkan darah. Saya mudah
marah, gampang tersulut emosinya, mudah terprovokasi, ah jauhlah dari
sifat Nabi Nuh.

Akal pikiran ini tak secerdas Nabi Harun alaihi salam, yang karena
kecerdasannya ia diperintah Allah menemani Musa menghadapi Firaun
sekaligus menghadapi para pengikutnya. Kejernihan pikirannya,
menjadikan ia teramat mudah mendapat hikmah dari Allah. Saya
benar-benar iri kepada Nabi Harun yang tak pernah berhenti belajar.
Berbeda dengan saya yang terkadang sudah merasa cukup pintar, sering
berpikir bahwa diri ini sarat ilmu pengetahuan.

Saya benar-benar tak sebijak Nabi Sulaiman alaihi salam, dalam segala
hal. Ia yang mampu mendengar suara semut yang ketakutan akan derap
pasukan Sulaiman, bahkan sangat kasih terhadap makhluk yang sangat
kecil itu. Karena kebijaksanaannya itulah, ia dicintai oleh segenap
makhluk di bumi, dari bangsa manusia hingga jin, dari hewan di darat,
udara sampai di dalam lautan. Sulit rasanya saya sekadar mencoba
berlaku bijaksana dan adil. Saya masih egois, melihat untung rugi
dalam berbuat, mengedepankan siapa yang dekat dengan saya dan siapa
yang saya suka, bukan siapa yang benar dan berbuat kebaikan.

Nabi Isa alaihi salam mengajarkan tentang kelembutan hati. Tentang
berbagi, membantu sesama, menolong orang tanpa pamrih, meringankan
beban kaum dhuafa, menyediakan tangannya untuk orang-orang yang
kesusahan, dan mengobati yang sakit. Hatinya selalu menangis melihat
orang-orang yang menderita, dirinya selalu berada di sekeliling kaum
dhuafa. Sedangkan saya, berkali-kali menyaksikan fenomena kemiskinan,
kesusahan, penderitaan di berbagai tempat, tetap saja hati ini sekeras
batu,.Tak gampang menangis jika bukan diri ini sendiri yang mengalami
kesusahan.

Bagaimana dengan Rasulullah Muhammad Sallallaahu alaihi wassallaam?
Sungguh, beliaulah teladan seluruh manusia. Tentang cinta, kasih
sayang kepada sesama, urusan rumah tangga, kelembutan sikap, kemuliaan
akhlak, tutur kata, persahabatan, persaudaraan, kepemimpinan,
berwirausaha, seluruhnya sempurna. Tak cukup jutaan lembar kertas
untuk menuliskan keindahan pribadinya, diperlukan samudera tinta guna
melukiskan kemuliaan akhlaknya.

Tetapi saya? Tak berani menyebut satu saja keunggulan pribadi diri
ini. Sebab, satu terbilang, maka seratus keburukan segera terucap.
Andaikan saya setampan Yusuf, mungkin saya akan sombong dan tak
bersyukur. Misalkan saya sepemberani Daud, belum tentu digunakan untuk
membela kebenaran. Adapun saya pernah membantu seseorang, pamrih,
ujub, riya pun mengiringi perbuatan itu.

Jangankan untuk meniru sifat para Nabi dan Rasul, mendekatinya pun tak
mungkin. Jangankan menyamai pribadi mereka, mengikuti jejak para
sahabatnya pun tak sanggup. Berkaca pada manusia-manusia pilihan-Mu ya
Rabb, saya malu, teramat malu.

Jika demikian adanya, di pintu mana saya boleh mengetuk surga-Mu?

ditulis oleh:
Sahabatku, Bayu Gautama.

Jumat, 21 November 2008

Bukan Karena Manusia!

Saudaraku,
Dalam perjalanan dakwah ini, ada yang mengeluh, merasa jenuh, ingin gugur, dan jatuh.
Ia berkata, "Aku lelah."
Namun, ada juga orang-orang yang tubuhnya lelah,
pikirannya penat, problem hidupnya banyak,
ekonominya pas-pas-an, tapi semangatnya kuat!
Ia berkata, "LILLAH." Karena ALLAH. Maka, Ikhlaslah saudaraku...
Sebab bila tidak, kau akan tersakiti.

Note:
Untuk semua saudaraku yang merasa dirinya "dikhianati" oleh dakwah,
yakinlah, kembalikanlah semua AMAL dan DAKWAH kita kepada Sang Pemilik Dakwah ini.
Jangan berhenti berjuang, jangan berhenti menasehati, dan jangan pernah berhenti untuk melangkah bersama.
Sebab kita beramal bukan untuk manusia, bukan untuk golongan, bukan untuk partai.
Semua ini hanyalah sarana, untuk mencapai ridho-Nya.

Kamis, 03 April 2008

Renungan: Menyambut 4 April

Tulisan ini saya buat, sebagai rasa syukur atas segala nikmat dan karunia-Nya pada diri ini. Karena sungguh, betapapun diri ini adalah insan yang dhoif, penuh dengan kelalaian dan kekhilafan. Semoga, self-introspection ini, dapat membuat saya lebih baik di kemudian hari. Sebagai seorang ayah, seorang suami, juga seorang hamba Alloh Swt.

Renungan Seorang Ayah.
Untuk menjadi seorang ayah yang baik, saya masih harus banyak belajar. Saya merasa, anak-anak saya masih menganggap saya adalah ayah yang galak. Pernah terlintas pendengaran, ketika anak saya bicara dengan ummi-nya, bahwa abi-nya galak bahkan tukang marah. Masya4JJI, padahal dalam islam kita tidak boleh marah. Namun kebanyakan orang masih salah paham, antara marah dengan tegas. Tegas itu, bukan berarti marah. Kita harus menjauhi marah. Karena marah itu temannya syaithon. Tidak boleh ada istilah: marah karena karana 4JJI.
“Tapi, yakinlah Nak... Tidak ada sedikitpun terlintas dalam hati ini untuk marah padamu. Seandainya kalian tahu, bahwa hati ini menangis, bahkan seringkali menangis setelah merenungi apa yang telah abi lakukan padamu. Mungkin hukuman abi kepadamu, ketika kau melakukan kesalahan / kenakalan, masih terlalu berat, atau bahkan menyakitimu. Tapi, itu semua abi lakuan karena abi sangat menyayangimu. Aku tidak ingin kau melakukan kesalahan atau perbuatan yang buruk. Padahal, abi tahu benar, bahwa secara fase perkembangan anak, usiamu adalah masa-masa seorang anak untuk selalu ingin tahu, dan mencoba hal-hal baru, bahkan meniru-niru perkataan atau perbuatan orang lain / teman yang kau sendiri tidak tahu artinya…”
“Maafkan abi, ya Fauzan… abi ingin sekali, kau sebagai seorang abang bisa dicontoh keteladanan-nya dalam berprilaku dan berkata-kata… Abi ingin sekali, kau menjadi abang yang sangat menyayangi dan melindungi adik-adiknya... Abi ingin sekali, kelak kau menjadi abang yang bertanggung-jawab dan bisa mewakili posisi abi rumah, ketika kau sudah dewasa, atau abi sudah tiada. Juga untuk menjaga ummi… mematuhi semua kata-katanya… menjadi harapan kami. Kau adalah anak pertama… maka sudah sepantasnyalah kau kami tumpukan harapan dan cita-cita kami, lebih besar dari adik-adikmu. Sesuai nama dan doa yang abi sematkan padamu seumur hidupmu… Afuza Fauzan ‘Azhima, yang artinya adalah: aku dapatkan kemenangan yang besar! Ketahuilah Nak.. dalam al-Qur’an, kemenangan yang besar adalah, kemenangan untuk setiap hamba-hamba 4JJI yang beriman dan beramal sholih, dan mereka berjihad di jalan 4JJI. Maka berjihadlah dalam setiap langkah hidupmu, Nak…”
“Tumbuhlah sebagai seorang anak yang sholih, pintar, dan sehat. Karena abi selalu tidak kuat untuk menahan laju airmata ini, jikalau mendapatkanmu terbaring sakit. Kau tidak tahu, setiap kali kau jatuh sakit, abi selalu berbaring disisimu yang sedang tidur, abi menangis, dan menangis seraya berdoa syafaakaLLoohu…”
“Maafkan abi, ya Husna… anak gadis abi satu-satunya. Setidaknya, untuk saat ini, karena adikmu adalah laki-laki. Maafkan abi, kalau sering melukai perasaanmu yang halus dan lembut. Sungguh kau benar-benar beda dengan abang dan adikmu. Betapa kecintaanmu pada abi sangat dalam. Terbukti setiap abi pulang, yang kau tanyakan adalah abi.. (kalau abang fauzan lebih sering menanyakan, abi bawa oleh-oleh apa / makanan apa) Kau peluk dan kau cium abi. Abi sering menitikan airmata, setiap kali mendengarkan ummi-mu bercerita, tentang kerinduanmu pada abi, setiap kali abi tidak di rumah. Kau tanyakan kepada ummi, setiap kali abi belum pulang ketika malam sudah larut, atau abi pergi keluar kota, bahkan kau sekuat tenaga sampai menunggu abi pulang hingga kau tertidur dengan sendirinya karena lelah…”
“Kau tidak pernah tahan untuk tidak menangis, bila abi bicara kepadamu agak keras. Padahal abi sangat tidak tega untuk tegas padamu, terlebih mukamu yang paling mirip abi, dibanding abang Fauzan dan adik Ayyasy. Sungguh abi sangat menyayangimu, hingga abi sering 'mendoktrin'mu untuk tidak mau menikah, agar menjadi anak abi selamanya. Dan itu berhasil, hingga ummi-mu sebel dengan abi. Kau anak yang paling pandai mengambil hati abi dan merayu abi. Kau anak yang paling 'dewasa' dalam berkata-kata dan memberikan 'nasihat' kepada abang dan adikmu. Sungguh abi sangat bersyukur 4JJI memberikan kesempatan pada abi untuk mempunyai dan mendidik anak perempuan. Dan karena itulah, abi memberikanmu nama yang indah... seindah harapan dan doa abi padamu.. Fastawa Jamil Al-Husna.”
“Maafkan abi, ya Ayyasy... anak abi yang paling mirip ummi. Maafkan kalau abi suka meledekmu: 'anak sipit' dan perkataan lainnya, yang menurut ummi adalah perlakuan deskriminasi. Walaupun kau belum mengerti, tapi setidaknya abi tidak boleh seperti itu. Abi hanya bercanda kok, Nak. Abi sering sedih, bila ummi-mu bicara, 'nanti juga Abi paling sayang sama kamu Ayyasy, kalau ummi sudah tidak ada.. karena kamu yang paling mirip ummi..' Ah, ada-ada saja ummi-mu itu Ayyasy.”
“Nak, kau perlu tahu, bahwa dalam namamu ada semangat ummi.. ketika mengandungmu, ummi sangat bersemangat untuk menghafalkan juz 29. Kesan yang mendalam itulah, yang membuatnya ingin menyematkan nama Hafizh untuk bayi laki-lakinya, sesuai cita-cita dan doanya untuk hafal qur'an. Kemudian abi melengkapinya menjadi Ayyasy Hafizh 'Akafa.”


Renungan Seorang Suami.
Bila mengingat-ingat apa yang sudah saya berikan pada istri saya yang sabar, sholihah, dan pintar masak ini.. rasanya malu. Saya merasa, belum menjadi suami seperti yang diidamkannya selama ini. Saya ingin menjadi yang terbaik untuknya. Saya sering berbuat tidak adil untuknya (oleh karenanya, masih agak jauh untuk berpoligami), masih sering menyakiti hatinya, padahal Rosululloh SAW, sudah mengingatkan bahwa sebaik-baiknya seorang muslim adalah yang paling baik pada istrinya (setidaknya, hadits itu menjadi salah satu parameter menilai seseorang diantara beberapa hadits serupa yang lainnya).
Ia sudah memelihara dan mendidik 3 anak-anak saya, dengan baik, dan tidak menuntut macam-macam. Namun, pada saat yang sama, saya belum optimal dalam memberikan apresiasi atas jihadnya itu. Saya hanya tidak lupa untuk memberikannya hadiah ataupun kejutan-kejutan kecil yang membahagiakannya, seperti di hari ulang tahunnya, ulang tahun pernikahan, ulang tahun anak-anak, dan ulang tahun saya sendiri. Selebihnya, saya hanya berdoa dan berharap, semoga usaha saya untuk tetap menjaga keharmonisan dan keromantisan keluarga bersamanya tetap terjaga. Saya akan menjaga hal itu, dan komitmen untuk terus meningkatkannya di masa yang akan datang. Semoga 4JJI memudahkan saya, untuk mewujudkan visi: baiti jannati, seperti yang kami cita-citakan bersama, sejak hari pertama kami hidup bersama.
“Ling-ling (panggilan sayang untuknya), maafkan abi ya.. kalau selama ini terlalu banyak kelalaian yang abi lakukan sebagai seorang suami. Khususnya dalam membantumu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Abi sadar, bahwa selama 7 tahun pernikahan kita, banyak sudah airmatamu yang mengalir.. semoga, semua pengorbanan dan kesabaranmu, juga atas setiap doa yang kau panjatkan pada-Nya, dalam setiap tahajjud dan dluha-mu, dikabulkan 4JJI dan diberi ganjaran berupa jannatun na'im.”
“Doakan selalu keluargamu ini, semoga senantiasa diberikan yang terbaik menurut 4JJI, hingga ridho-Nya bisa kita dapatkan. Semoga, kita dapat menerima semua yang sudah menjadi taqdir kita, dengan lapang dada dan penuh rasa syukur. Ling-ling cinta, Semoga kau senantiasa diberikan kesabaran dalam menjalani hidup dan dakwah ini. Doakan suamimu, agar selalu diberikan kemudahan dalam setiap langkah dan usahanya.. untuk membawamu dan anak-anak meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.”


Renungan Seorang Hamba.
Bagian ini yang buat saya paling memprihatinkan. Betapa tidak, sebagai seorang hamba, saya masih belum bisa menta'ati-Nya dengan penuh totalitas. Bercermin dan bermuhasabah, untuk kemudian melihat kedalam diri ini, dari kisah hidup, perjuangan, dan pengabdian orang-orang sholih, dan para mujahid... masih jauh dari dekat. (ya Robb, semoga masih ada kesempatan bagi diri ini untuk menjemput kematian sebagai syuhada... amiin)
Dakwah telah membawa saya semakin mengenal hakikat kehidupan. Akan kemana dan mau bagaimana hidup ini, tidak lepas dari usaha kita dalam mencari dan memelihara hidayah 4JJI Ta'ala, mengikuti sunnah Nabi-Nya sholaLLoohu 'alaihi wasallam, dan mengambil hikmah dari kehidupan para salafus-sholih. (ya Robb, izinkan hamba suatu saat nanti bisa benar-benar mengikuti sikap hidup dan prinsip-prinsip mereka dalam mengaplikasikan keseimbangan dunia dan akhirat... amin)
“Duhai 4JJI yang Maha Rahman, jangan Engkau biarkan hamba bedosa, kecuali Engkau mengampuninya. Jangan Engkau biarkan hamba malas, kecuali Engkau memaafkannya. Jangan Engkau biarkan hamba berhutang, kecuali Engkau membuat hamba mampu membayarnya. Jangan Engkau biarkan hamba mempunyai keinginan di dunia dan akhirat, kecuali Engkau mengabulkannya... amiin”
“Duhai 4JJI yang Maha Lembut, sungguh hamba meminta padaMu lisan yang senantiasa berdzikir padaMu, hati yang peka dan senantiasa bersyukur padaMu, dan tubuh yang kuat dan sempurna yang selalu tunduk padaMu. Allohumma ya Alloh.. sungguh hamba meminta iman yang indah, hati yang khusyu', keyakinan yang benar, dan kelebihan yang bermanfaat untuk manusia... amiin”
“Duhai 4JJI... jika Engkau tidak mengampuni, kepada siapa lagi kami harus bertaubat?.. Jika Engkau tidak mengabulkan doa kami, kepada siapa lagi kami memohon?.. Jika Engkau tidak menerima ibadah kami, kepada siapa lagi kami mengabdi? Jika Syurga itu hanya untuk orang-orang sholih, maka kepada siapa lagi kami berharap?.. Ya Hannaan ya Mannaan, jangan redupkan hati ini dari harapan akan ridhoMu dan rasa takut akan siksaMu...”
“Duhai 4JJI... berikan kekuatan dalam diri hamba untuk dapat membangun keluarga yang bahagia, penuh kasih sayang dan cinta.. Ya 4JJI.. Berikan kepada hamba, kemampuan untuk memberi contoh, sebagai seorang ayah yang mengayomi, suami yang melindungi, dan hamba yang ta'at padaMu. Berikan ya Robb, sebagaimana Engkau telah memberikannya selama ini... amiin”



Pamulang, 3 April 2008.