Menangislah...
Mungkin itulah kata yang tepat, untuk pertama kali saya ucapkan pada diri ini (jiwa dan ruh ini) ... Karena begitu 'menonjok'-nya nasihat dari salah satu sahabat Rosululloh SAW yang mulia ini.
"Duhai Alloh yang Maha Mengampuni, ampuni aku.. Wahai Robb yang Maha Menyayangi, sayangi aku.."
Dado Binagama
---)|(---
Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan.
Keyakinan tinggal pemikiran, yang tidak berbekas pada perbuatan.
Banyak orang baik, tapi tidka berakal..
Ada orang berakal, tapi tidak beriman..
Ada yang berlidah fasih, tapi berhati lalai..
Ada yang khusyuk, tapi sibuk dalam kesendirian..
Ada yang ahli ibadah, tapi mewarisi kesombongan iblis..
Ada yang ahli maksiat, tapi rendah hati bagaikan sufi..
Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, dan..
Ada yang banyak menangis karena kufur nikmat..
Ada yang murah senyum, tapi hatinya mengumpat..
Ada yang berhati tulus, tapi wajahnya cemberut..
Ada yang berlisan bijak, tapi tak memberi teladan..
Ada pezina, yang tampil jadi figur..
Ada yang punya ilmu, tapi tidak paham..
Ada yang paham, tapi tidak menjalankan..
Ada yang pintar, tapi membodohi..
Ada yang bodoh, tapi tak tahu diri..
Ada yang beragama, tapi tidak berakhlak..
Ada yang berakhlak, tapi tidak ber-Tuhan..
Lalu, diantara semua itu.. aku ada dimana?!
(ALI BIN ABI THOLIB, rodhiyaLLohu 'anhu)
Tampilkan postingan dengan label hati nurani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hati nurani. Tampilkan semua postingan
Selasa, 08 Februari 2011
Kamis, 25 Maret 2010
SUAMI BERHATI MALAIKAT
(tulisan ini diambil dari fesbuk-nya Aidil Heryana, yang saya dapati link-nya dari YM. Luar biasa, bila benar tulisan ini adalah kisah nyata, maka ini sangat mengharukan dan mengajari kita akan makna cinta, dilihat dari salah satu sisi terbersihnya) ~Dado Binagama~
Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.
Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!
Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.
Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.
Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya– karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing– Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu ‘agar semua anaknya dapat berhasil’.
Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:
“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.” Sambil air mata si sulung berlinang.
“Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.
”Anak-anakku…Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya.
Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa….disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.
Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…” Sambil menangis.
” Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya…”. BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH”.
Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.
Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!
Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.
Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.
Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya– karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing– Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu ‘agar semua anaknya dapat berhasil’.
Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:
“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.” Sambil air mata si sulung berlinang.
“Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.
”Anak-anakku…Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya.
Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa….disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.
Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…” Sambil menangis.
” Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya…”. BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH”.
SUAMI YANG SERING BERDUSTA
(tulisan ini, saya ambil dari fesbuk-nya teman baik saya, mas Bayu. Semoga bisa menjadi renungan, hiburan, dan motivasi untuk menjadi suami yang terbaik.. minimal untuk istri kita) ~Dado Binagama~
By: Bayu Gawtama
Entah kapan saya punya keberanian untuk mengakui, mungkin suatu saat tanpa harus saya ceritakan, isteri akan tahu sendiri bahwa suaminya ini sering berdusta, dalam banyak hal. Kata orang, sepandai-pandainya menyimpan bangkai, akan tercium juga. Sehebat apapun seseorang menyembunyikan kebohongan, suatu saat akan terbongkar, bagaimana pun cara dan jalannya. Setiap dusta harus ditutupi oleh dusta yang lain, parahnya semakin lama energi ini akan habis terkuras karena fitrah manusia itu adalah kebenaran.
Ada nasihat yang bagus dari seorang sahabat sebelum saya menikah. Mudah sekali membuat wanita bahagia, kuncinya ada di telinga. Telinga dia dan telinga kita. Maksudnya, wanita itu hanya suka mendengar hal-hal yang indah dan menyenangkan. Maka ketika berbicara dengannya cukup bicarakan yang baik-baik, yang indah-indah dan hindari sesuatu yang bisa menyakitinya, meskipun itu sebuah kejujuran. Sebaliknya, ketika ia berbicara maka sediakan telinga kita seluas samudera untuk menampung segala cerita, kisah, curahan hati hingga keluh kesahnya.
Akhirnya waktu itu pun tiba, saya tak bisa lagi menahan untuk tidak bicara. Meskipun saya tahu, tanpa saya berterus terang pun isteri sudah bisa merasakannya. Mata batinnya selalu menyala, jiwanya selalu terasah untuk mampu menangkap sinyal-sinyal yang tak sesuai dengan kenyataan. Ia seperti tahu banyak hal yang sering saya sembunyikan, karenanya buat apa juga saya terus menahan hati untuk tidak berbicara empat mata dengannya.
Saya berterus terang, bahwa saya pernah mendustainya soal makan. Setiap pulang kerja, isteri hampir tak pernah absen untuk menyiapkan makan malam. Setiap kali isteri bertanya, “Makan sudah disiapkan, mau makan dulu apa mandi dulu?”. Nah disaat seperti inilah saya kerap berdusta, saya selalu bilang belum makan dan selalu menunggu untuk makan di rumah karena masakan isteri yang paling nikmat. Padahal, sering sebelum pulang ada rekan yang mengajak saya makan, atau teman-teman di kantor menyediakan makan malam. Saya berdusta untuk tetap menghormati isteri yang sudah sepenuh hati menyiapkan masakan, akan bagaimana perasaanya jika saya tak menyentuh makanannya?
Masih tentang makanan, saya juga pernah berdusta berkenaan soal rasa. Kadang, mungkin karena ia terlalu letih mengurus rumah dan anak-anak seharian, ada yang kurang dalam rasa masakannya. Kadang kurang garam, atau terlalu manis. Saya harus menyembunyikan ekspresi saya ketika makanannya kurang atau kebanyakan garam misalnya. Kalau soal yang satu ini, biasanya isteri langsung tahu karena ia pun ikut makan. Paling-paling ia bilang, “iiih kok nggak bilang kalau belum digaramin…” saya hanya tersenyum.
Saya pernah berdusta kalau sepulang kerja isteri bertanya, “Abi capek nggak? Ada yang mau Ummi bicarakan…”. Selelah apapun saya saat itu, selalu saya bilang, “masih seger begini kok, ayo kita bicara…”. Belum satu jam berbicara, beberapa kali mata ini terpejam menahan kantuk. “iih diajak bicara kok malah tidur…”. Segera saya membelalakkan mata dan bilang, “Nggak, tadi merem itu lagi menghayati kok…”, sering pula isteri masih berbicara saya benar-benar tertidur lelap. Esok paginya, saya benar-benar minta maaf kepadanya.
Kadang isteri bertanya, “Abi ada waktu? Sedang tidak sibuk kan?” Pertanyaan itu kerap ia lontarkan ketika saya sedang di rumah. Saya belum bilang kalau hari itu ada kegiatan atau ada acara lain di luar rumah. Tapi karena isteri yang meminta, maka saya katakan waktu saya sangat longgar hari itu. Maka kami pun berjibaku menyelesaikan pekerjaan rumah, namun diam-diam saya sambil kirim pesan singkat ke beberapa orang yang sudah terlanjur janji bahwa saya datang telat.
Soal uang pun demikian. Saya sering berusaha untuk tidak berkata, “tidak punya uang” saat isteri bertanya, “masih punya uang nggak? Uang belanja sudah habis…” atau “anak-anak perlu beli buku baru, Abi masih ada simpanan?”. Tidak tega rasanya kalau harus “jujur” mengatakan saya tidak punya uang saat itu. Saya hanya ingin membuat isteri tenang menjalani aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga tanpa harus memikirkan hal yang menjadi kewajiban saya. Jawaban untuk pertanyaan diatas, biasanya yang keluar dari mulut ini, “Ooh, perlunya kapan? Insya Allah akan selalu ada pada saat diperlukan.”
Satu lagi dusta yang sangat umum dilakukan banyak suami, meskipun sang isteri benar-benar tahu kalau suaminya berdusta dalam hal ini, tetapi ia tetap senang dengan “dusta” suaminya ini. Yakni ketika suaminya berkata, “Dik, kamu adalah wanita tercantik di dunia ini…” Ini bisa dibilang jujur, bisa juga dibilang dusta, tergantung bagaimana memandang dan memersepsikannya. Sejujurnya memang mungkin isteri kita bukanlah yang benar-benar tercantik di dunia, karena boleh jadi secara fisik mungkin ada yang lebih cantik darinya. Tetapi, jika ini diungkapkan berdasarkan perasaan cinta yang sebenarnya, maka wajar jika di hati sang suami hanya kecantikan isterinyalah nomor satu di dunia, bukan yang lain. Cantik wajahnya, terlebih hatinya. Ajaibnya, meskipun terdengar “merayu” tetap saja semua isteri paling suka “dusta” yang satu ini.
By: Bayu Gawtama
Entah kapan saya punya keberanian untuk mengakui, mungkin suatu saat tanpa harus saya ceritakan, isteri akan tahu sendiri bahwa suaminya ini sering berdusta, dalam banyak hal. Kata orang, sepandai-pandainya menyimpan bangkai, akan tercium juga. Sehebat apapun seseorang menyembunyikan kebohongan, suatu saat akan terbongkar, bagaimana pun cara dan jalannya. Setiap dusta harus ditutupi oleh dusta yang lain, parahnya semakin lama energi ini akan habis terkuras karena fitrah manusia itu adalah kebenaran.
Ada nasihat yang bagus dari seorang sahabat sebelum saya menikah. Mudah sekali membuat wanita bahagia, kuncinya ada di telinga. Telinga dia dan telinga kita. Maksudnya, wanita itu hanya suka mendengar hal-hal yang indah dan menyenangkan. Maka ketika berbicara dengannya cukup bicarakan yang baik-baik, yang indah-indah dan hindari sesuatu yang bisa menyakitinya, meskipun itu sebuah kejujuran. Sebaliknya, ketika ia berbicara maka sediakan telinga kita seluas samudera untuk menampung segala cerita, kisah, curahan hati hingga keluh kesahnya.
Akhirnya waktu itu pun tiba, saya tak bisa lagi menahan untuk tidak bicara. Meskipun saya tahu, tanpa saya berterus terang pun isteri sudah bisa merasakannya. Mata batinnya selalu menyala, jiwanya selalu terasah untuk mampu menangkap sinyal-sinyal yang tak sesuai dengan kenyataan. Ia seperti tahu banyak hal yang sering saya sembunyikan, karenanya buat apa juga saya terus menahan hati untuk tidak berbicara empat mata dengannya.
Saya berterus terang, bahwa saya pernah mendustainya soal makan. Setiap pulang kerja, isteri hampir tak pernah absen untuk menyiapkan makan malam. Setiap kali isteri bertanya, “Makan sudah disiapkan, mau makan dulu apa mandi dulu?”. Nah disaat seperti inilah saya kerap berdusta, saya selalu bilang belum makan dan selalu menunggu untuk makan di rumah karena masakan isteri yang paling nikmat. Padahal, sering sebelum pulang ada rekan yang mengajak saya makan, atau teman-teman di kantor menyediakan makan malam. Saya berdusta untuk tetap menghormati isteri yang sudah sepenuh hati menyiapkan masakan, akan bagaimana perasaanya jika saya tak menyentuh makanannya?
Masih tentang makanan, saya juga pernah berdusta berkenaan soal rasa. Kadang, mungkin karena ia terlalu letih mengurus rumah dan anak-anak seharian, ada yang kurang dalam rasa masakannya. Kadang kurang garam, atau terlalu manis. Saya harus menyembunyikan ekspresi saya ketika makanannya kurang atau kebanyakan garam misalnya. Kalau soal yang satu ini, biasanya isteri langsung tahu karena ia pun ikut makan. Paling-paling ia bilang, “iiih kok nggak bilang kalau belum digaramin…” saya hanya tersenyum.
Saya pernah berdusta kalau sepulang kerja isteri bertanya, “Abi capek nggak? Ada yang mau Ummi bicarakan…”. Selelah apapun saya saat itu, selalu saya bilang, “masih seger begini kok, ayo kita bicara…”. Belum satu jam berbicara, beberapa kali mata ini terpejam menahan kantuk. “iih diajak bicara kok malah tidur…”. Segera saya membelalakkan mata dan bilang, “Nggak, tadi merem itu lagi menghayati kok…”, sering pula isteri masih berbicara saya benar-benar tertidur lelap. Esok paginya, saya benar-benar minta maaf kepadanya.
Kadang isteri bertanya, “Abi ada waktu? Sedang tidak sibuk kan?” Pertanyaan itu kerap ia lontarkan ketika saya sedang di rumah. Saya belum bilang kalau hari itu ada kegiatan atau ada acara lain di luar rumah. Tapi karena isteri yang meminta, maka saya katakan waktu saya sangat longgar hari itu. Maka kami pun berjibaku menyelesaikan pekerjaan rumah, namun diam-diam saya sambil kirim pesan singkat ke beberapa orang yang sudah terlanjur janji bahwa saya datang telat.
Soal uang pun demikian. Saya sering berusaha untuk tidak berkata, “tidak punya uang” saat isteri bertanya, “masih punya uang nggak? Uang belanja sudah habis…” atau “anak-anak perlu beli buku baru, Abi masih ada simpanan?”. Tidak tega rasanya kalau harus “jujur” mengatakan saya tidak punya uang saat itu. Saya hanya ingin membuat isteri tenang menjalani aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga tanpa harus memikirkan hal yang menjadi kewajiban saya. Jawaban untuk pertanyaan diatas, biasanya yang keluar dari mulut ini, “Ooh, perlunya kapan? Insya Allah akan selalu ada pada saat diperlukan.”
Satu lagi dusta yang sangat umum dilakukan banyak suami, meskipun sang isteri benar-benar tahu kalau suaminya berdusta dalam hal ini, tetapi ia tetap senang dengan “dusta” suaminya ini. Yakni ketika suaminya berkata, “Dik, kamu adalah wanita tercantik di dunia ini…” Ini bisa dibilang jujur, bisa juga dibilang dusta, tergantung bagaimana memandang dan memersepsikannya. Sejujurnya memang mungkin isteri kita bukanlah yang benar-benar tercantik di dunia, karena boleh jadi secara fisik mungkin ada yang lebih cantik darinya. Tetapi, jika ini diungkapkan berdasarkan perasaan cinta yang sebenarnya, maka wajar jika di hati sang suami hanya kecantikan isterinyalah nomor satu di dunia, bukan yang lain. Cantik wajahnya, terlebih hatinya. Ajaibnya, meskipun terdengar “merayu” tetap saja semua isteri paling suka “dusta” yang satu ini.
Senin, 06 Oktober 2008
Tinggal Hanya Status
Saudaraku, tulisan ini bagus untuk mengingatkan kita.
Ya, mengingatkan agar kita tidak terlena oleh tipu daya dunia.
Karena, siapapun kita, tetap tidak akan pernah lepas dari godaan dunia.
Yang bahaya adalah, jika yang terlena itu adalah para ustadz!
karena, bisa jadi mereka akan mencari-cari pembenaran atas apa yang mereka lakukan.
Bukan lagi kebenaran. TAPI pembenaran. Na'udzubillah min dzaalik.
Ditulis oleh: Ust. H. Mashadi
Wajahnya bersih. Klimis. Bibirnya kemerah-merahan. Pakaiannya selalu trendy dan nampak 'charming'. Biasanya menggunakan merk terkenal atau barang branded. Seleranya tinggi. Gaya hidupnya nyaris sempurna. Flamboyan.
Pergaulannya kalangan papan atas. Gaya bicaranya hanya bisa dipahami kalangan tertentu. Tak suka bergaul dengan orang 'udik'. Konon, tetangganya meninggalpun, tak berkenan takziyah, karena yang meninggal orang tak 'berkelas'.
Bicaranya memukau siapa saja. Retorika dan pilihan katanya menarik. Menyihir orang-orang yang ada didekatnya. Mereka sangat ta'jub. Kecerdasannya diakui banyak kalayak. Ingatannya luar biasanya. Apa saja bisa dibicarakan. Dari yang ringan sampai yang rumit. Dari soal agama sampai soal politik global. Semua faham. Posisinya amat menentukan. Banyak orang bergantung kepadanya. Semua yang diucapkan dan dilakukannya menjadi perhatian. Menjadi perhatian siapa saja. Anjuran dan arahannya diikuti. Ia menjadi sebuah 'icon' di lingkungannya, dan memiliki magnitute yang luar biasa.
Mungkin ia membaca teori-teori kepribadian dari berbagai ahli. Ahli kepribadian Barat. Kehidupannya menyesuaikan dengan ritme baru. Tak menggambarkan lagi sebagai orang lama. Orang yang konservatif. Orang yang tak berubah. Orang yang dalam terminologi lama disebut: 'puritan'.
Bersahaja. Kehidupan lama sudah tidak sesuai lagi. Ia tinggalkan semua yang berbau lama. Kaidah-kaidah lama tak lagi menguntungkan. Tak lagi dapat memberi kenyamanan. Kenyamanan kehidupan pribadinya. Karena semua berubah. Ia harus ikut berubah. Menyesuaikan. Kaidah-kaidah kehidupannya ikut berubah. Lingkungan pergaulannya menjadi luas. Tak terbatas. Tidak lagi sebatas orang-orang yang se-jenis. Dalam berbagai hal. Termasuk ideologi. Lebih luas. Lebih kosmopolitan. Lebih menjangkau seluruh kelompok-kelompok dan golongan. Tak ada sekat lagi.
Tak lagi suka menggunakan idiom-idiom agama. Karena akan menyusahkan hidupnya. Agama hanya akan menjadi penghalang cita-citanya. Agama hanya akan menjadi tembok 'barrier' bagi karirnya. Menggunakan idiom agama adalah malapetaka. Menggunakan agama dapat dituduh fundamentalis dan teroris. Agama harus dibuang jauh-jauh. Agama akan mengacaukan dukungan terhadap dirinya atau lingkungannya. Agama harus menjadi masa lalu.Tak lagi suka ceramah di masjid-masjid. Karena tak dapat memberikan 'benefit' apa-apa. Kecil. Lebih suka bertemu dengan kalangan-kalangan atas. Politisi, birokrat, atau pengusaha. Di kafe-kafe. Di lobi-lobi hotel berbintang. Nilai lebih
tinggi. Sekali 'deal' sudah dapat digunakan, memuaskan hasratnya yang obsesif dengan kekuasaan. Kekuasaan sudah menjadi 'ghoyah' tujuan. Kekuasaan adalah di atas segala-galanya. Tak lagi peduli. Tak peduli dengan kritik. Semua harus diarahkan dan diajak menjangkau kekuasaan. Betapapun mahal.
Pikiran, tenaga, dan seluruh potensi harus diarahkan menjangkau kekuasaan. Mimpi-mimpi yang dibangun adalah mimpi kekuasaan. Jangan mimpi yang lain. Ingatan kolektifnya adalah kekuasaan. Tak boleh yang lain. Seluruh lingkungan kolektifnya harus mengikutinya. Tak boleh ada yang melakukan interupsi. Kekuasaan harus segera direngkuh. Berkuasa menjadi keniscayaan. Ia yakin bisa terwujud. Yakin akan menjadi fakta kenyataan. Betapa heroiknya. Heroik yang disertai dengan daya khayal yang ambisius.Idiom-idiom baru terus disampaikan. Sebagian orang tak paham. Sebagian orang menolak. Sebagian orang menentang. Semua yang tak sepaham, akhirnya luruh dan pergi.
Memang. Agar tujuan dapat diwujudkan, tak perlu ada perbedaan. Apalagi, ada orang yang menolak dan menentang. Harus homogin. Semuanya harus satu kata dan satu tujuan. Kekuasaan. Dibenaknya kekuasaan pasti akan memberikan segalanya. Harapan yang diimpikan, pasti akan terwujud. Tak ada lagi yang tak dapat diwujudkan. Kemuliaan. Penghormatan. Harta. Semua fasilitas akan terpenuhi. Kemewahan akan dinikmati.Lalu, orang-orang melihatnya menjadi tertegun. Seakan melihat sebuah keajaiban. Seakan tak percaya. Seakan melihat bayangan dalam mimpi. Inilah generasi baru yang membuat banyak orang menjadi terpana.
Kini. Keterbukaan dan koalisi adalah 'aqidah' baru. Tak lagi berani menunjukkan identitasnya sebagai muslim. Assalamu'alaikum diganti dengan pekik 'merdeka!'. Kondisi menuntutnya seperti itu. Tak ada sekat lagi antara agama dan nasionalisme. Kaum agama dan kaum nasionalis bisa bersama-sama. Tak ada sekat lagi antara Islam dan Kristen. Tak ada sekat lagi partai yang berbasis agama dengan partai sekuler. Semua sama. Semua dalam satu cita-cita nasional. Pengorbanan harus dilakukan.Tak perlu terlalu menampakkan identitas atau jati diri. Berteman dengan siapapun tidak masalah. Berteman dengan golongan apapun tidak masalah. Karena rakyat ini tidak homogin. Tidak mengklaim kelompok yang paling benar dan ideal. Dan, tak aneh kalau kadang-kadang mengikuti selera rakyat. Rakyat suka yang 'dilarang' agama, harus diikuti selera mereka. Rakyat suka berjoget. Rakyat harus dipuaskan. Asal semua mendukung dan memilihnya. Kekuasaan harus direngkuh dengan cara apapun. Tak peduli. Melanggar atau tidak. Bukan lagi perdebatan pokok. Agama tak lagi menjadi penentu 'mizan' dalam beramal.
Kini. Semua yang melihatnya tertegun. Bagaikan tak percaya. Harapan yang dibawa pupus. Berharap akan ada alternatif. Berharap solusi masa depan mereka. Berharap akan lebih baik. Belum lagi genap sepuluh tahun harapan itu memudar. Hampa. Tak ada kebanggaan yang padu. Tak ada kepercayaan yang tersisa. Setiap orang semua menunduk malu. Seakan melihat semua tontonan yang tak pantas ditonton. Pertunjukkan di panggung yang 'absurd'. Satu-satu penonton meninggalkan panggung. Tak tertarik lagi dengan ajakan sang 'aktor'. Karena para pengunjung malu dan merasa jijik.
Memang. Masih berstatus sebagai muslim. Masih melaksanakan shalat. Masih berpuasa. Mungkin juga sering ke Timur Tengah, dan pergi umroh. Tapi, tak lagi berani menyatakan diri sebagai muslim. Tak percaya lagi. Tak yakin lagi. Tak merasa perlu berjuang bersama Islam. Islam sudah masa lalu.
Realitas hari ini tak mendukung bagi kepentingan dan kebutuhan yang diinginkan. Komunitas ini harus menjadi besar dan kuat. Kalau mau menjadi besar dan kuat, tak harus mengandalkan kepada Islam. Inilah logika orang-orang yang sudah terobsesi dengan kekuasaan. Agama Islam is 'nothing'.
Tapi, dalam sejarah ada orang-orang yang memberikan kebanggan, yang tak ada habis-habisnya. Namanya, terus menjadi diingat, tak putus-putus oleh waktu. Hasan al-Banna mati ditembak. Sayyid Qutub mati ditiang gantungan. Ali Audah mati ditiang gantungan. Syeikh Ahmad Yasin mati oleh rudal Israel. Mereka semuanya tetap berpegang dengan keyakinan dan keimanannya.
Mereka tak pernah berubah oleh waktu dan keadaan. Padahal, mereka semua mempunyai kesempatan mereguk kenikmatan dunia. Kesempatan mendapatkan segala yang menjadi ambisi manusia. Tapi, semua yang nisbi itu, dilupakannya.
Coba renungkan yang disampaikan oleh Allah Azza Wa Jalla di bawah ini: "Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al-Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya
syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk". (al-Qur'an: 43: 36-37). Wallahu 'alam.
Ya, mengingatkan agar kita tidak terlena oleh tipu daya dunia.
Karena, siapapun kita, tetap tidak akan pernah lepas dari godaan dunia.
Yang bahaya adalah, jika yang terlena itu adalah para ustadz!
karena, bisa jadi mereka akan mencari-cari pembenaran atas apa yang mereka lakukan.
Bukan lagi kebenaran. TAPI pembenaran. Na'udzubillah min dzaalik.
Ditulis oleh: Ust. H. Mashadi
Wajahnya bersih. Klimis. Bibirnya kemerah-merahan. Pakaiannya selalu trendy dan nampak 'charming'. Biasanya menggunakan merk terkenal atau barang branded. Seleranya tinggi. Gaya hidupnya nyaris sempurna. Flamboyan.
Pergaulannya kalangan papan atas. Gaya bicaranya hanya bisa dipahami kalangan tertentu. Tak suka bergaul dengan orang 'udik'. Konon, tetangganya meninggalpun, tak berkenan takziyah, karena yang meninggal orang tak 'berkelas'.
Bicaranya memukau siapa saja. Retorika dan pilihan katanya menarik. Menyihir orang-orang yang ada didekatnya. Mereka sangat ta'jub. Kecerdasannya diakui banyak kalayak. Ingatannya luar biasanya. Apa saja bisa dibicarakan. Dari yang ringan sampai yang rumit. Dari soal agama sampai soal politik global. Semua faham. Posisinya amat menentukan. Banyak orang bergantung kepadanya. Semua yang diucapkan dan dilakukannya menjadi perhatian. Menjadi perhatian siapa saja. Anjuran dan arahannya diikuti. Ia menjadi sebuah 'icon' di lingkungannya, dan memiliki magnitute yang luar biasa.
Mungkin ia membaca teori-teori kepribadian dari berbagai ahli. Ahli kepribadian Barat. Kehidupannya menyesuaikan dengan ritme baru. Tak menggambarkan lagi sebagai orang lama. Orang yang konservatif. Orang yang tak berubah. Orang yang dalam terminologi lama disebut: 'puritan'.
Bersahaja. Kehidupan lama sudah tidak sesuai lagi. Ia tinggalkan semua yang berbau lama. Kaidah-kaidah lama tak lagi menguntungkan. Tak lagi dapat memberi kenyamanan. Kenyamanan kehidupan pribadinya. Karena semua berubah. Ia harus ikut berubah. Menyesuaikan. Kaidah-kaidah kehidupannya ikut berubah. Lingkungan pergaulannya menjadi luas. Tak terbatas. Tidak lagi sebatas orang-orang yang se-jenis. Dalam berbagai hal. Termasuk ideologi. Lebih luas. Lebih kosmopolitan. Lebih menjangkau seluruh kelompok-kelompok dan golongan. Tak ada sekat lagi.
Tak lagi suka menggunakan idiom-idiom agama. Karena akan menyusahkan hidupnya. Agama hanya akan menjadi penghalang cita-citanya. Agama hanya akan menjadi tembok 'barrier' bagi karirnya. Menggunakan idiom agama adalah malapetaka. Menggunakan agama dapat dituduh fundamentalis dan teroris. Agama harus dibuang jauh-jauh. Agama akan mengacaukan dukungan terhadap dirinya atau lingkungannya. Agama harus menjadi masa lalu.Tak lagi suka ceramah di masjid-masjid. Karena tak dapat memberikan 'benefit' apa-apa. Kecil. Lebih suka bertemu dengan kalangan-kalangan atas. Politisi, birokrat, atau pengusaha. Di kafe-kafe. Di lobi-lobi hotel berbintang. Nilai lebih
tinggi. Sekali 'deal' sudah dapat digunakan, memuaskan hasratnya yang obsesif dengan kekuasaan. Kekuasaan sudah menjadi 'ghoyah' tujuan. Kekuasaan adalah di atas segala-galanya. Tak lagi peduli. Tak peduli dengan kritik. Semua harus diarahkan dan diajak menjangkau kekuasaan. Betapapun mahal.
Pikiran, tenaga, dan seluruh potensi harus diarahkan menjangkau kekuasaan. Mimpi-mimpi yang dibangun adalah mimpi kekuasaan. Jangan mimpi yang lain. Ingatan kolektifnya adalah kekuasaan. Tak boleh yang lain. Seluruh lingkungan kolektifnya harus mengikutinya. Tak boleh ada yang melakukan interupsi. Kekuasaan harus segera direngkuh. Berkuasa menjadi keniscayaan. Ia yakin bisa terwujud. Yakin akan menjadi fakta kenyataan. Betapa heroiknya. Heroik yang disertai dengan daya khayal yang ambisius.Idiom-idiom baru terus disampaikan. Sebagian orang tak paham. Sebagian orang menolak. Sebagian orang menentang. Semua yang tak sepaham, akhirnya luruh dan pergi.
Memang. Agar tujuan dapat diwujudkan, tak perlu ada perbedaan. Apalagi, ada orang yang menolak dan menentang. Harus homogin. Semuanya harus satu kata dan satu tujuan. Kekuasaan. Dibenaknya kekuasaan pasti akan memberikan segalanya. Harapan yang diimpikan, pasti akan terwujud. Tak ada lagi yang tak dapat diwujudkan. Kemuliaan. Penghormatan. Harta. Semua fasilitas akan terpenuhi. Kemewahan akan dinikmati.Lalu, orang-orang melihatnya menjadi tertegun. Seakan melihat sebuah keajaiban. Seakan tak percaya. Seakan melihat bayangan dalam mimpi. Inilah generasi baru yang membuat banyak orang menjadi terpana.
Kini. Keterbukaan dan koalisi adalah 'aqidah' baru. Tak lagi berani menunjukkan identitasnya sebagai muslim. Assalamu'alaikum diganti dengan pekik 'merdeka!'. Kondisi menuntutnya seperti itu. Tak ada sekat lagi antara agama dan nasionalisme. Kaum agama dan kaum nasionalis bisa bersama-sama. Tak ada sekat lagi antara Islam dan Kristen. Tak ada sekat lagi partai yang berbasis agama dengan partai sekuler. Semua sama. Semua dalam satu cita-cita nasional. Pengorbanan harus dilakukan.Tak perlu terlalu menampakkan identitas atau jati diri. Berteman dengan siapapun tidak masalah. Berteman dengan golongan apapun tidak masalah. Karena rakyat ini tidak homogin. Tidak mengklaim kelompok yang paling benar dan ideal. Dan, tak aneh kalau kadang-kadang mengikuti selera rakyat. Rakyat suka yang 'dilarang' agama, harus diikuti selera mereka. Rakyat suka berjoget. Rakyat harus dipuaskan. Asal semua mendukung dan memilihnya. Kekuasaan harus direngkuh dengan cara apapun. Tak peduli. Melanggar atau tidak. Bukan lagi perdebatan pokok. Agama tak lagi menjadi penentu 'mizan' dalam beramal.
Kini. Semua yang melihatnya tertegun. Bagaikan tak percaya. Harapan yang dibawa pupus. Berharap akan ada alternatif. Berharap solusi masa depan mereka. Berharap akan lebih baik. Belum lagi genap sepuluh tahun harapan itu memudar. Hampa. Tak ada kebanggaan yang padu. Tak ada kepercayaan yang tersisa. Setiap orang semua menunduk malu. Seakan melihat semua tontonan yang tak pantas ditonton. Pertunjukkan di panggung yang 'absurd'. Satu-satu penonton meninggalkan panggung. Tak tertarik lagi dengan ajakan sang 'aktor'. Karena para pengunjung malu dan merasa jijik.
Memang. Masih berstatus sebagai muslim. Masih melaksanakan shalat. Masih berpuasa. Mungkin juga sering ke Timur Tengah, dan pergi umroh. Tapi, tak lagi berani menyatakan diri sebagai muslim. Tak percaya lagi. Tak yakin lagi. Tak merasa perlu berjuang bersama Islam. Islam sudah masa lalu.
Realitas hari ini tak mendukung bagi kepentingan dan kebutuhan yang diinginkan. Komunitas ini harus menjadi besar dan kuat. Kalau mau menjadi besar dan kuat, tak harus mengandalkan kepada Islam. Inilah logika orang-orang yang sudah terobsesi dengan kekuasaan. Agama Islam is 'nothing'.
Tapi, dalam sejarah ada orang-orang yang memberikan kebanggan, yang tak ada habis-habisnya. Namanya, terus menjadi diingat, tak putus-putus oleh waktu. Hasan al-Banna mati ditembak. Sayyid Qutub mati ditiang gantungan. Ali Audah mati ditiang gantungan. Syeikh Ahmad Yasin mati oleh rudal Israel. Mereka semuanya tetap berpegang dengan keyakinan dan keimanannya.
Mereka tak pernah berubah oleh waktu dan keadaan. Padahal, mereka semua mempunyai kesempatan mereguk kenikmatan dunia. Kesempatan mendapatkan segala yang menjadi ambisi manusia. Tapi, semua yang nisbi itu, dilupakannya.
Coba renungkan yang disampaikan oleh Allah Azza Wa Jalla di bawah ini: "Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al-Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya
syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk". (al-Qur'an: 43: 36-37). Wallahu 'alam.
Langganan:
Komentar (Atom)
