Rabu, 26 November 2008

Berharap Syurga-Mu

Memang saya tak setampan Nabi Yusuf alaihi salam, yang pesonanya
membuat Zulaikha tergila-gila kepadanya dan belasan wanita cantik
lainnya rela mengiris tangannya tanpa sadar lantaran tersihir keelokan
wajah putra Ya'kub itu. Ketampanan Yusuf bukan semata fisik, melainkan
cahaya di hatinya yang memancarkan kemuliaan. Bandingkan dengan diri
ini, tak seujung kelingking pun ketampanan saya bisa menyaingi Nabi
mulia itu.


Saya pun tak sesabar Nabi Ibrahim alaihi salam, berdakwah hingga
usianya lebih seabad namun hanya sedikit pengikutnya. Yang bersabar
hingga hari tuanya untuk bisa menimang putra tercinta Ismail. Coba
lihat diri ini, sering tergesa-gesa tak sabaran

Sosok ini pun tak setaat Ismail putra Ibrahim, yang ikhlas menjalankan
perintah Allah meskipun harus disembelih oleh ayahnya sendiri. Bahkan
Ismail tak bergeming saat setan menggodanya. Hmm, mudah sekali rasanya
setan-setan menggoda diri ini. Mungkin karena saya belum benar-benar
taat kepada-Nya.

Diri ini jelas-jelas tak setabah Nabi Ayub alaihi salam dalam
menjalani cobaan dari Allah. Ayub yang bertahun-tahun diuji Allah
dengan penyakit, tak sedikit pun mengeluh. Justru sebaliknya, ia
merasa ujian itu adalah cara Allah mendekatinya. Sedangkan saya, baru
kena flu saja sudah uring-uringan, bagaimana diberi penyakit yang
lebih parah? Bisa-bisa jadi alasan untuk malas beribadah.

Saya juga tak sehebat Nabi Daud alaihi salam, yang meski bertubuh
kecil sangat pemberani melawan Raja Jalut. Begitupun Nabi Musa alaihi
salam yang tak gentar berhadapan dengan penguasa paling lalim
sepanjang masa, Firaun. Ia berani mengungkapkan kebenaran dengan nyawa
taruhannya. Duh, jika saya berada pada posisi seperti itu, sanggupkah?
Bahkan menegur sahabat yang berbuat salah pun terasa berat lidah ini
mencobanya. Ironisnya, saya sering bersembunyi, pura-pura buta setiap
kali kemungkaran berlaku di depan mata ini.

Hati ini tak setegar Nabi Nuh alaihi salam yang tetap tersenyum
mendapati ejekan dari kaumnya, termasuk isteri dan anaknya sendiri.
Bahkan ketika air bah datang, Nuh tetap mengajak kaum yang sebelumnya
tak henti mengejeknya sebagai orang gila. Andaikan saya yang diejek,
emosi lah yang didahulukan. Kalau perlu saya menantang siapapun
penghina itu untuk berkelahi, saling menumpahkan darah. Saya mudah
marah, gampang tersulut emosinya, mudah terprovokasi, ah jauhlah dari
sifat Nabi Nuh.

Akal pikiran ini tak secerdas Nabi Harun alaihi salam, yang karena
kecerdasannya ia diperintah Allah menemani Musa menghadapi Firaun
sekaligus menghadapi para pengikutnya. Kejernihan pikirannya,
menjadikan ia teramat mudah mendapat hikmah dari Allah. Saya
benar-benar iri kepada Nabi Harun yang tak pernah berhenti belajar.
Berbeda dengan saya yang terkadang sudah merasa cukup pintar, sering
berpikir bahwa diri ini sarat ilmu pengetahuan.

Saya benar-benar tak sebijak Nabi Sulaiman alaihi salam, dalam segala
hal. Ia yang mampu mendengar suara semut yang ketakutan akan derap
pasukan Sulaiman, bahkan sangat kasih terhadap makhluk yang sangat
kecil itu. Karena kebijaksanaannya itulah, ia dicintai oleh segenap
makhluk di bumi, dari bangsa manusia hingga jin, dari hewan di darat,
udara sampai di dalam lautan. Sulit rasanya saya sekadar mencoba
berlaku bijaksana dan adil. Saya masih egois, melihat untung rugi
dalam berbuat, mengedepankan siapa yang dekat dengan saya dan siapa
yang saya suka, bukan siapa yang benar dan berbuat kebaikan.

Nabi Isa alaihi salam mengajarkan tentang kelembutan hati. Tentang
berbagi, membantu sesama, menolong orang tanpa pamrih, meringankan
beban kaum dhuafa, menyediakan tangannya untuk orang-orang yang
kesusahan, dan mengobati yang sakit. Hatinya selalu menangis melihat
orang-orang yang menderita, dirinya selalu berada di sekeliling kaum
dhuafa. Sedangkan saya, berkali-kali menyaksikan fenomena kemiskinan,
kesusahan, penderitaan di berbagai tempat, tetap saja hati ini sekeras
batu,.Tak gampang menangis jika bukan diri ini sendiri yang mengalami
kesusahan.

Bagaimana dengan Rasulullah Muhammad Sallallaahu alaihi wassallaam?
Sungguh, beliaulah teladan seluruh manusia. Tentang cinta, kasih
sayang kepada sesama, urusan rumah tangga, kelembutan sikap, kemuliaan
akhlak, tutur kata, persahabatan, persaudaraan, kepemimpinan,
berwirausaha, seluruhnya sempurna. Tak cukup jutaan lembar kertas
untuk menuliskan keindahan pribadinya, diperlukan samudera tinta guna
melukiskan kemuliaan akhlaknya.

Tetapi saya? Tak berani menyebut satu saja keunggulan pribadi diri
ini. Sebab, satu terbilang, maka seratus keburukan segera terucap.
Andaikan saya setampan Yusuf, mungkin saya akan sombong dan tak
bersyukur. Misalkan saya sepemberani Daud, belum tentu digunakan untuk
membela kebenaran. Adapun saya pernah membantu seseorang, pamrih,
ujub, riya pun mengiringi perbuatan itu.

Jangankan untuk meniru sifat para Nabi dan Rasul, mendekatinya pun tak
mungkin. Jangankan menyamai pribadi mereka, mengikuti jejak para
sahabatnya pun tak sanggup. Berkaca pada manusia-manusia pilihan-Mu ya
Rabb, saya malu, teramat malu.

Jika demikian adanya, di pintu mana saya boleh mengetuk surga-Mu?

ditulis oleh:
Sahabatku, Bayu Gautama.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Subhanallah...tulisan ini sangat menggugah membuat ana tersadar betapa hinanya diri ini di hadapan-MU ya Rabb. Andaikan diri ini harus bersujud setiap waktu pada-Mu tidak akan pernah bisa membayar segala nikmat dan kasih sayang-Mu.

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum

subhanallah...
pantaskah kita ke surgaNya?
insya Alloh...
keep istiqamah,
:)

l-o-v-e-A-l-l-o-h