Kamis, 03 April 2008
Nice Poem : Sebuah Renungan
Saudaraku, puisi dibawah ini sangat layak untuk jadi bahan renungan kita.
Semoga, kita dimudahkan 4JJI untuk menumbuhkembangkan sikap konsisten,
dalam berdakwah, beramal sholih, dan memberikan contoh... (Abu Fauzan)
Ditulis oleh: Tomy Saleh,
Tebet, 16 Mei 2006. pk.11.13 WIB
Kami diajarkan kejujuran,
Tapi ketika kami jujur, kami dibilang bodoh.
Kami diajarkan kritis,
Tapi ketika kami kritis, kami dibilang membangkang.
Kami diajarkan istiqomah,
Tapi ketika kami istiqomah, kami dibilang kuno
Kami diajarkan tegas pada musuh,
Tapi ketika kami tegas pada musuh, kami dibilang terlalu ekstrim
Kami diajarkan hidup sederhana,
Tapi ketika kami hidup sederhana, kami dibilang tidak bisa menerima kemajuan.
Kami diajarkan menolak harta syubhat,
Tapi ketika kami tolak harta syubhat, kami dibilang payah.
Kami diajarkan menghindari hidup bermewah-mewahan,
Tapi ketika kami menghindari hidup bermewah-mewahan, kami dibilang kampungan.
Kami diajarkan untuk mengatakan kebenaran dan melawan kebathilan,
Tapi ketika kami berdiri untuk melakukannya, kami kaget, karena kami berhadapan langsung denganmu!
Selasa, 01 April 2008
Taushiyah Singkat 55 : Pantang Menyerah
Saudaraku,
Mengapa kau begitu jemu menjalani hidup ini?
Mengapa kau tidak ingin berbuat banyak, padahal banyak hal bisa kau perbuat?
Mengapa kau malas untuk merealisasikan impianmu sendiri?
Mengapa kau begitu tidak bersemangat untuk membuktikan bahwa kau mampu!
Ingatlah sahabatku, Alloh Ta'ala masih dan akan selalu bersamamu.
Selama engkau senantiasa menyandarkan semua harapan dan hasil kerjamu pada-Nya.
Jadilah hamba yang dibanggakan Alloh Swt, dan ummat kebanggaan Rosululloh Saw!
Kau pasti bisa! Aku yakin itu.
Selasa, 25 Maret 2008
Taushiyah Singkat 54 : Bangkit dan Semangatlah!
Bangkit dan semangatlah! Ketika kau merasa dirimu cukup kuat
untuk terus "melanjutkan perjalanan"...
Namun, berhenti dan beristirahatlah! ketika kau merasa dirimu tidak lagi
cukup kuat untuk "melangkah lebih jauh"...
Tidakpun kau merasa dalam kondisi dua hal itu, maka duduklah sejenak.
Bersamaku, disini.
Bersama, mari kita mengingat-ingat nikmat 4JJI Ta'ala, dan mensyukurinya...
Taushiyah Singkat 53 : Menghadapi Ujian-Nya
Kecewa dan merasa sakit hati, dalam hidup ini adalah hal yang manusiawi.
Namun, apapun yang kita alami, dan kita rasakan... semoga membuat kita menjadi lebih BIJAK,
lebih SABAR, dan lebih dekat dengan 4JJI Ta'ala.
Tidak ada yang lebih baik dari itu, dalam menjalani kehidupan ini.
Semoga, 4JJI semakin cinta pada kita. Amiin.
Senin, 25 Februari 2008
Artikel : Fitnah Harta
Tanpa diajari atau dirangsang, manusia sudah dengan sendirinya mendambakan punya harta yang banyak. Karena harta berpotensi mendatangkan kesenangan. Yang perlu dipelajari manusia adalah bagaimana mendapatkan harta dengan cara yang benar. Juga bagaimana mengelola harta dengan benar, agar ia tidak berubah menjadi fitnah.
Jadi kalau ada orang menceritakan dirinya mendambakan punya rumah mewah, kendaraan mewah, atau apa saja yang menyenangkan dari dunia, sebenarnya dia sedang menceritakan kenaifan dirinya, sekaligus menyingkap keruntuhan ma'nawiyah (jati diri)nya di hadapan orang lain. Karena Islam diturunkan bukan untuk mengajari manusia mencintai semua itu. Tanpa diajaripun, kesenangan dunia, sudah melekat pada diri manusia.
Justru kedatangan Alqur'an untuk mewanti-wanti manusia akan bahaya harta. Karena harta berpotensi menyeret manusia kepada kebinasaan di dunia dan akhirat. Harta berpotensi melalaikan manusia dari Allah. Harta berpotensi melupakan manusia dari tujuan hidupnya yang hakiki, yakni mencari kesenangan akhirat.Tanpa harus dikomentari, silakan baca ayat-ayat berikut ini:
1) Dan tidaklah kehidupan dunia melainkan kesenangan yang menipu.
2) Dan tidaklah kehidupan dunia melainkan permainan dan lahwun.
3) Apakah kamu lebih suka pada kehidupan dunia ketimbang akhirat, maka tidaklah kesenangan hidup dunia di akhirat melainkan hanya sedikit (at Taubah:38).
4) Dijadikan indah dalam pandangan manusia, kecintaan pada syahwat dari perempuan, anak, tumpukan emas, perak, kuda tunggangan, hewan ternak, dan pertanian. Yang demikian itu adalah kesenangan hidup di dunia, dan Allah memiliki tempat kembali yang jauh lebih baik (Ali Imron 14).
5) Carilah apa yang didatangkan Allah bagimu berupa negeri akhirat. Dan jangan engkau lupakan bagianmu di dunia (al-Qashash: 77).
Masih banyak ayat lain dengan nada serupa, menceritakan rendahnya hakikat dunia dan harta di mata Allah. Dan Allah memperingatkan orang-orang beriman agar tidak tertipu oleh dunia yang telah banyak menggelincirkan umat lain di luar Islam.Tapi tidak satu pun ayat Allah atau hadits Nabi yang menggesa manusia untuk mengejar harta dan kenikmatan dunia, apalagi dengan mengatakan "jangan tanya darimana sumbernya".
Tak diragukan, ucapan itu hanya muncul dari golongan 'Ahlud Dunia'. Kalau ini dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin manusia mengganti Tuhannya dari Allah menjadi hawa nafsu. Mengganti alhaq menjadi albatil.Terjemahannya dalam dunia politik praktis, mengganti calon kepala daerah yang soleh tapi dananya terbatas, dengan calon yang koruptor asal uangnya banyak.Jika pola pikir seperti ini tidak pantas ada pada seorang mukmin biasa, apalagi pada level seorang pemimpin (al Qa'id atau Imam).
Jika itu benar-benar terjadi, maka inilah namanya qiyadah sedang menebar racun kepada bawahannya. Atau juga bisa dikatakan sang Imam sudah batal wudhu'nya, sehingga keimamannya sudah tidak sah lagi.Dalam sebuah ayat, Allah benar-benar melarang hamba-Nya melirik kekayaan/kelebihan yang dimiliki orang lain. Ayat itu berbunyi sebagai berikut: "Janganlah kamu mendambakan apa yang diberikan Allah kepada sebagian kamu di atas sebagian lain."
Jadi artinya apa? Memperhatikan kesenangan orang lain, kemudian mengkhayal-khayalkan kelebihan yang dimiliki orang lain, ternyata dalam perspektif Qurani, adalah perbuatan tercela, dan merusak muru'ah.Konon lagi mengelus-ngelus mobil mewah orang, terpesona dengan rumah orang, mirip seperti orang sedang mengalami gangguan kejiwaan, wal 'Iyadzu billah.
Orang-orang mukmin tak perlu diajari mencintai harta. Ajaran itu justru adalah ajaran syetan. Hanya syetan yang mengajarkan cinta harta. Yang perlu diajarkan kepada orang-orang mukmin, agar tetap tabah menghadapi rintangan dalam perjuangan.Perjuangan sungguh memerlukan kesabaran yang luar biasa. Apalagi perjuangan menegakkan Dienullah. Tetapi ganjaran yang dijanjikan Allah di balik perjuangan itu adalah aljannah, sebuah kesenangan tanpa batas, tak pernah terlintas di benak manusia, tak pernah terlihat di dunia dan tak pernah kedengaran sebelumnya.
Kesenangan yang ada di sini (dunia) hanyalah kesenangan palsu; jika ada, ia disyukuri, tak perlu menyibukkan. Jika tidak, tak perlu bersedih. Justru kesedihan kita, apabila kita kehilangan iman dan idealisme. Jika sebuah kemenangan diraih, ia bukan kenikmatan yang perlu ditepuki, tetapi justru amanah yang harus dipertanggungjawabkan pada hari tidak ada sesuatu pun yang dapat disembunyikan, perhitungan sangat keras dan dahsyat.Begitulah seharusnya nasihat seorang pemimpin yang istiqomah di jalan Allah. Sebagaimana dulu nasehat Khoirul Anbiya' Muhammad Saw kepada shahabatnya seperti dilaporkan oleh Abu Sa'id al-Khudry r.a, beliau berkata, ketika kami duduk di sekitar mimbar Rasul, kudengar beliau bersabda, "Yang paling kutakutkan pada kalian, jika dibukakan Allah kepada kalian kesenangan dunia dan gemerlapnya."
Jika nash-nash yang ada kita perhatikan, Allah dan Rasul-Nya tidak mengkhawatirkan umat ini akan bahaya kekurangan dan kemiskinan, sebagaimana peringatannya terhadap kesenangan, harta dan dunia. Artinya, orang tidak akan sampai jatuh dalam dosa besar karena kemiskinannya. Tetapi manusia bisa jatuh dalam dosa besar karena kekayaan yang dia miliki. Bahaya-bahaya apa sajakah itu? Mulai dari sumber kekayaan itu.Seseorang banyak menjadi kaya dengan cara yang tidak halal. Setelah menjadi kaya, ia tidak kuat menghadapi dorongan hawa nafsu yang muncul karena harta. Karena dengan harta yang banyak, pintu-pintu maksiat terbuka luas di hadapannya. Dalam kondisi ini banyak orang yang tidak kuat menahannya.
Oleh karena itulah dalam suatu kesempatan, Nabi Saw memberitahukan bahwa cobaan paling berat bagi Bani Israil adalah perempuan. Sedang cobaan yang paling berat bagi ummatku adalah harta (Hadits Shohih).Lalu apakah pantas seorang pemimpin merangsang anggotanya untuk mengejar harta, sementara Nabi Saw menyuruh ummatnya agar berhati-hati dengan harta dan dunia?!
Dr. Daud Rasyid, M.A.
Senin, 18 Februari 2008
Artikel : Macam-macam Fitnah
Allah swt pada surat Al Baqarah [2]:191, lebih lengkap terjemahannya adalah: "Dan Bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), Maka Bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir."
Kata fitnah yang dosanya lebih besar dari pembunuhan disebutkan pula dalam firman lain yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh, mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."(QS Al Baqarah [2]:217).
Ayat ini penting untuk kita pahami karena ia seringkali digunakan untuk sesuatu yang bukan maksudnya, hal ini karena kata fitnah sudah menjadi bahasa Indonesia yang konotasinya adalah mengemukakan tuduhan negatif kepada seseorang padahal orang itu tidak seperti yang dituduhkan. Bisa jadi banyak istilah dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Arab atau dari kata yang terdapat di dalam Al-Qur’an tapi maknanya tidak seperti yang dimaksud oleh Al-Qur’an dan ketika orang menggunakan kata itu, ia menggunakan dalil Al-Qur’an untuk membenarkannya, bukankah ini namanya penyalahgunaan suatu ayat?.
Dalam Ensiklopedi Al-Qur’an, fitnah berasal dari kata fatana yang berarti membakar logam, emas atau perak untuk menguji kemurniannya. Juga berarti membakar secara mutlak, meneliti, kekafiran, perbedaan pendapat dan kezaliman, hukuman dan kenikmatan hidup.
MAKSUD AYAT.
Bila diteliti ayat sebelum dan sesudah ayat di atas, turunnya ayat ini menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya merupakan perintah atau izin kepada Nabi dan kaum muslimin untuk melakukan peperangan terhadap orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimin, namun memerangi mereka yang memerangi kaum muslimin tidak boleh melampaui batas seperti membunuh musuh sampai memotong-motong atau mencincang mereka, membunuh wanita, anak-anak, orang tua yang lanjut usia, rahib dan pendeta yang ada di rumah ibadah mereka padahal mereka tidak terlibat dalam peperangan, membunuh hewan dan merusak lingkungan seperti menebang atau membakar pohon, merusak rumah ibadah dan sebagainya.
Dibolehkan dan diperintahkannya kaum muslimin memerangi orang-orang kafir karena kekufuran dan kemusyrikan serta menghalangi manusia dari jalan Allah merupakan perbuatan yang lebih parah dan lebih fatal, ini merupakan fitnah besar dalam kaitan dengan agama sehingga pada surat Al Baqarah [2] ayat 193, Allah swt berfirman: "Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu Hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim."
Lebih lanjut, Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fii Dzilalil Quran menegaskan: “Sesungguhnya 'fitnah terhadap agama' berarti permusuhan terhadap sesuatu yang paling suci dalam kehidupan manusia. Karena itu, ia lebih besar bahayanya daripada pembunuhan, lebih kejam daripada membunuh jiwa seseorang, menghilangkan nyawa dan menghilangkan kehidupan. Baik fitnah itu berupa intimidasi maupun perbuatan nyata atau berupa peraturan dan perundang-undangan bejat yang dapat menyesatkan manusia, merusak dan menjauhkan mereka dari manhaj Allah serta menganggap indah kekafiran dan memalingkan manusia dari agama Allah itu."
Sebagai agama yang menekankan perdamaian, pada dasarnya Islam tidak menghendaki terjadinya peperangan dan permusuhan antar manusia meskipun mereka berbeda agama, tapi bila orang-orang kafir sudah sampai pada tingkat memerangi kaum muslimin, maka pembalasan harus dilakukan dan bila mereka berhenti memerangi umat Islam apalagi mereka masuk Islam, maka permusuhanpun diakhiri. Karena itu, Sayyid Quthb menambahkan: “Betapa mulianya Islam ini. Dia melambai-lambaikan ampunan dan rahmat bagi orang-orang kafir dan menggugurkan hukum qishash dari mereka semata-mata karena mereka mau masuk ke dalam barisan Islam setelah sebelumnya mereka membunuh dan memfitnahnya serta melakukan berbagai macam tindakan kasar terhadapnya. Tujuan perang ialah memberikan jaminan agar manusia tidak difitnah lagi dari (memasuki atau melaksanakan) agama Allah, dan agar mereka tidak dijauhkan atau dimurtadkan darinya dengan kekuatan atau semacamnya seperti kekuatan undang-undang yang mengatur kehidupan umum manusia dan kekuatan-kekuatan untuk menyesatkan dan merusak”.
MACAM-MACAM FITNAH.
Fitnah yang dikategorikan lebih kejam dari pembunuhan bisa dikelompokkan menjadi beberapa macam. Pertama adalah syirik, yakni mensekutukan Allah swt, hal ini dinyatakan dalam firman Allah swt yang artinya: "Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman dari pada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun kedalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), Maka tawanlah mereka dan Bunuhlah mereka dan merekalah orang-orang yang kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka." (QS An Nisa [4]:91)
Kedua, kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak suka kepada kaum muslimin, Allah swt berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan (fitnah) kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan Kemudian mereka tidak bertaubat, Maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar." (QS Al Buruj [85]:10)
Menurut Prof. DR. Wahbah Az Zuhaili, yang dimaksud dengan cobaan atau fitnah adalah berbagai macam siksaan seperti dibakar hidup-hidup supaya orang beriman menjadi murtad. Maka bila mereka tidak bertaubat, siksaan jahannam yang membakar mereka akan menjadi balasannya.
Pada masa Rasulullah saw banyak sahabat yang mengalami fitnah berupa siksaan seperti yang dialami oleh Bilal bin Rabah yang diseret di atas padang pasir yang panas, dicambuk, dijemur sampai ditindihkan batu besar. Begitu juga dengan Yasir dan Sumayyah yang akhirnya mati karena mengalami siksaan yang amat berat.
Ketiga adalah fitnah dalam arti memperebutkan harta yang tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang zalim saja, tapi bisa terjadi pada siapa saja karena sikap mereka yang melampaui batas, bahkan bisa jadi antar sesama saudara, suku dan dalam organisasi perjuangan, mereka bisa bermusuhan karena berebut harta. Hal yang amat mengkhawatirkan adalah dengan sebab harta seseorang menggadaikan nilai-nilai idealisme kebenaran yang selama ini telah diperjuangkannya dan ini merupakan fitnah yang besar, karenanya bagi mereka akan disiapkan siksa yang Amat keras, Allah swt berfirman: "Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan (fitnah) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (QS Al Anfal [8]:25).
Dalam menghadapi fitnah, setiap kita harus berlindung kepada Allah swt agar tidak termasuk orang-orang yang menjadi pelaku fitnah. Disinilah letal pentingnya bagi untuk memiliki kekuatan rohani.
Drs. H. Ahmad Yani (ayani_ku@yahoo.com)
Sabtu, 20 Oktober 2007
Curhat : Syawal yang Indah
Bila berkumpul di Hari Raya, memang sedikit berbeda rasanya, sentuhan jiwanya, semangatnya, dan hal lain yang turut dirasakan hati saat bertemu dengan saudara-saudara sekandung.
Semoga, ikatan hati dan darah ini, akan tetap terbawa sampai di kehidupan abadi di akhirat kelak. Karena satu ikatan yang tidak pernah putus, dan lebih kuat dari ikatan darah... dialah ikatan Aqidah!
Seiring kami lantunkan lirih... "Duhai Alloh, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul dalam cinta kepadaMu, telah berjumpa dalam taat kepadaMu, telah bersatu dalam dakwah kepadaMu, telah berpadu dalam membela syariatMu, maka kuatkanlah yaa Alloh, ikatan-nya..."
Tangerang,
Syawal yang Fitri, 1428 Hijriyah.
